DPR RI Ingatkan Bahaya Panic Buying BBM di Tengah Isu Stok 21-25 Hari

TAJUKNASIONAL.COM Isu ketahanan stok bahan bakar minyak kembali menjadi perhatian publik setelah pemerintah menyebut kapasitas cadangan operasional BBM nasional berada di kisaran 21 hingga 25 hari.

Angka itu sebenarnya sejalan dengan pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bahwa daya tampung atau storage BBM Indonesia selama ini memang berada pada rentang sekitar 20–25 hari, dengan rata-rata stok nasional di level 22–23 hari.

Namun tanpa penjelasan yang utuh, informasi semacam itu mudah disalahartikan sebagai tanda kelangkaan pasokan.

Di tengah situasi tersebut, Anggota Komisi VI DPR RI Nevi Zuairina mengingatkan pentingnya menjaga stabilitas distribusi dan kepercayaan publik terkait ketersediaan BBM nasional.

Menurutnya, informasi mengenai kapasitas cadangan operasional harus dijelaskan secara komprehensif agar tidak menimbulkan kepanikan berlebihan di masyarakat, terutama menjelang periode permintaan energi yang biasanya meningkat.

Baca Juga: Komisi II DPR RI Soroti Revisi UU Pemilu, Aria Bima Tekankan Kualitas Demokrasi

Sebelumnya, isu ketahanan stok BBM juga sudah beberapa kali menjadi perhatian di DPR, termasuk saat Komisi XII menyoroti pentingnya menjaga pasokan menjelang Ramadan dan Idulfitri.

“Ketika masyarakat mendengar bahwa stok BBM hanya tersedia untuk sekitar tiga minggu, sebagian orang langsung menganggap akan terjadi kelangkaan.

Padahal yang dimaksud adalah kapasitas cadangan operasional di tangki penyimpanan nasional, bukan berarti pasokan BBM akan habis dalam waktu tersebut,” ujar Nevi dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (11/3/2026).

Menurut Nevi, panic buying biasanya muncul karena kombinasi beberapa faktor, mulai dari informasi yang tidak utuh, psikologi massa, hingga kekhawatiran terhadap situasi geopolitik global.

Ia menilai, ketika publik menerima kabar setengah jadi soal stok BBM, rasa takut bisa tumbuh lebih cepat daripada penjelasan rasional.

Situasi inilah yang kemudian berpotensi memicu antrean panjang di SPBU dan mengganggu distribusi yang seharusnya berjalan normal.

Baca Juga: Kasus Nabilah O’Brien Dihentikan, Komisi III DPR RI Soroti Potensi Miscarriage of Justice

“Sering kali rasa takut masyarakat lebih besar daripada kondisi sebenarnya. Ketika sebagian orang mulai menimbun BBM, masyarakat lain ikut melakukan hal yang sama. Inilah yang kemudian memicu antrean panjang di SPBU dan mengganggu distribusi,” jelasnya.

Nevi menegaskan bahwa panic buying justru bisa menciptakan artificial scarcity atau kelangkaan buatan.

Dalam kondisi seperti itu, pasokan yang sebenarnya tersedia bisa terlihat menipis karena permintaan melonjak secara tidak wajar dalam waktu singkat.

Karena itu, ia mendorong pemerintah memperkuat komunikasi publik yang cepat, terbuka, dan berbasis data. Ia juga meminta distribusi dari kilang ke depo hingga SPBU dijaga ketat agar pasokan tetap lancar di seluruh wilayah.

“Pengawasan terhadap potensi penimbunan dan penyalahgunaan BBM juga harus diperketat, terutama dalam situasi yang rentan memicu spekulasi,” tegasnya.

- Advertisement -
Berita Terbaru
- Advertisement -
Berita Lainnya
Rekomendasi Untuk Anda
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini