“Kalau umpamanya sesudah kebakaran, ya itu cuma perlu pemadam kebakaran, tidak perlu seorang Menteri Kehutanan,” ujarnya dalam siniar tersebut.
Ia menegaskan, Menhut Raja Juli Antoni seharusnya bisa merespons cepat!
Memetakan titik-titik api di mana saja kawasan hutan yang terbakar.
Rully Syumanda juga menilai Menhut Raja Juli Antoni seharusnya bertindak tegas terhadap para terduga pelaku pembakaran hutan dan lahan.
Baca Juga: KPK Dalami Dugaan Aliran Uang Bupati Kuansing ke Menhut Raja Juli
Termasuk di antaranya perusahaan pemegang hak konsesi hutan yang lahannya terbakar.
Apalagi, teknologi untuk memetakan hotspot sebaran titik kebakaran hutan sudah ada sejak lama.
Dan semestinya lebih canggih di era modern ini.
Sehingga akan langsung bisa diketahui di mana saja sebaran titik lokasi Karhutla.
“Gampang sekali melihat titik api ada di mana, hari ini ada satu, besok tiga, dikonsesi siapa. Seharusnya menteri langsung panggil dan beri teguran keras pemilik konsesinya saat itu juga,” timpalnya lagi.
Sikap kurang tegas dan tindakan lamban Menhut Raja Juli Antoni ini padahal menurutnya punya konsekuensi yang luar biasa merugikan!
Pria yang merupakan eks aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) ini memperkirakan, Karhutla yang menerjang kawasan hutan di Tanah Air ini membuat Indonesia mengalami kerugian mencapai Rp 221 triliun.
Baca Juga: DPR RI Minta KPK Dalami Dugaan Amplop untuk Menhut Raja Juli dalam Kasus Kuansing
Data itu, menurutnya satu di antaranya dicatat oleh World Bank.
“Ketika terjadi kebakaran, maka pemilik konsesi yang harus bertanggung jawab,” timpalnya menuntut ketegasan Menhut Raja Juli Antoni.
Siniar tersebut bisa ditonton di sini. (*)
