TAJUKNASIONAL.COM Pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia soal stok bahan bakar minyak (BBM) nasional yang disebut aman mulai dipandang dengan nada skeptis.
Di tengah situasi geopolitik yang memanas di Timur Tengah dan ancaman gangguan distribusi energi dunia, pernyataan yang terlalu menenangkan justru dianggap problematis.
Alih-alih meredakan keresahan, klaim aman dari pemerintah dinilai berpotensi meninabobokkan publik terhadap kondisi riil ketahanan energi nasional yang sebenarnya masih rapuh.
Pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang menyebut stok BBM nasional berada di kisaran 21 hingga 23 hari memang telah disampaikan ke publik dalam beberapa kesempatan.
Dalam kanal YouTube Forum Keadilan TV, Senin (9/3/2026), Direktur The National Maritime Institute (Namarin), Siswanto Rusdi, secara terbuka mempertanyakan transparansi pernyataan tersebut.
Menurut dia, Bahlil hanya menyampaikan angka cadangan, tetapi tidak mengurai berapa stok yang benar-benar sudah berada di dalam negeri dan berapa yang masih berada dalam perjalanan.
Baca Juga: Presiden Prabowo Bentuk Satgas Percepatan Transisi Energi, Bahlil Ditunjuk Ketua Target 100 GW PLTS
iswanto juga menyoroti kapal-kapal tanker Indonesia yang tertahan di kawasan Teluk Persia, situasi yang menurutnya memperlihatkan bahwa posisi pasokan Indonesia jauh lebih rentan daripada yang disampaikan secara resmi.
“Bahlil menyebut ada 21 hari persediaan BBM kita cadangan. Tapi yang tidak diungkap oleh Bahlil adalah berapa yang sudah di Indonesia, berapa yang OTW? Itu empat kapal itu berapa totalnya? Jadi ini rawan bagi kita,” ujar Siswanto.
Sikap skeptis terhadap Bahlil juga muncul karena solusi alternatif yang disampaikan pemerintah dinilai tidak sepenuhnya meyakinkan. Siswanto menepis anggapan bahwa pengalihan impor dari Singapura atau Amerika Serikat otomatis membuat Indonesia aman.
Menurut dia, rantai pasok global tetap saling terhubung dengan kawasan konflik, sehingga sumber pasokan alternatif belum tentu benar-benar lepas dari dampak krisis. Kritik ini membuat pernyataan Bahlil terlihat terlalu sederhana untuk menjawab persoalan energi yang kompleks.
Bahlil sebelumnya memang meminta masyarakat tidak panic buying dan menegaskan pasokan tetap lancar.
