Komisi IX DPR RI Minta BGN Fokus pada Program Makan Bergizi Gratis di Daerah 3T

TAJUKNASIONAL.COM Anggota Komisi IX DPR RI, Cellica Nurrachadiana, meminta Badan Gizi Nasional (BGN) memprioritaskan anggaran untuk pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Menurutnya, pengadaan yang tidak berkaitan langsung dengan program utama sebaiknya dikurangi agar manfaat MBG dapat dirasakan lebih luas, terutama di daerah yang paling membutuhkan.

Cellica menilai langkah tersebut penting mengingat kondisi ekonomi nasional yang masih menghadapi berbagai tantangan. 

Karena itu, penggunaan anggaran perlu diarahkan pada kegiatan yang memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kualitas gizi masyarakat.

“Pengadaannya dikurangi sedikit di tengah ekonomi kita yang sulit. Jadi, harapannya program ini difokuskan pada MBG-nya dulu, karena sebelumnya kan ada pengadaan-pengadaan yang belum pas, sehingga hari ini, kita bisa fokus ke MBG di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) dan memiliki angka stunting dulu, serta daerah-daerah yang memang menginginkan adanya MBG,” ujarnya.

Baca Juga: DPR RI Ingatkan BGN Hindari Instruksi Verbal dalam Program MBG

Menurut Cellica, Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM). 

Berbeda dengan pembangunan infrastruktur yang hasilnya dapat terlihat dalam waktu relatif singkat, pembangunan kualitas manusia membutuhkan konsistensi dan keberlanjutan.

“Indonesia membutuhkan waktu, SDM berbeda dengan fisik, kalau fisik seperti membangun jembatan atau jalan, ada uangnya bisa kita bangun, tetapi pembangunan manusia pasti lama, butuh konsistensi. Program ini juga harus fokus, ketika ada kekurangan maka diperbaiki dan dioptimalkan,” katanya.

Ia meyakini MBG dapat menjadi salah satu solusi untuk menekan angka stunting sekaligus meningkatkan kualitas generasi muda Indonesia. 

Program tersebut diharapkan mampu mendukung pertumbuhan fisik, perkembangan kecerdasan, serta kesehatan mental anak-anak.

Baca Juga: Komisi VII DPR RI Minta Kementerian UMKM Buka Data Pemasok Program MBG

“Jadi salah satu solusinya MBG, meski dengan adanya pro-kontra, kalau untuk MBG animo rakyat bagus sekali, bahkan bahagia, sampai ada yang bertanya (di daerahnya) kok belum ada MBG,” ucap Cellica.

Selain aspek distribusi, ia juga menyoroti pentingnya komunikasi antara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dengan pihak sekolah. 

Menurutnya, koordinasi tersebut diperlukan agar menu makanan yang disajikan tetap sesuai dengan angka kecukupan gizi sekaligus memperhatikan preferensi penerima manfaat.

“Misal ada yang bosan menunya, maka perlu peran komunikasi antara SPPG dan sekolah, makanan bukan hanya yang disukai saja, tetapi bergizi,” tuturnya.

Cellica juga menekankan pentingnya peran kader Posyandu dan keluarga berencana (KB) dalam mendukung keberhasilan program penurunan stunting. Jaringan kader yang tersebar hingga tingkat desa dinilai dapat menjadi ujung tombak edukasi mengenai pentingnya pemenuhan gizi sejak masa awal kehidupan.

- Advertisement -
Berita Terbaru
- Advertisement -
Berita Lainnya
Rekomendasi Untuk Anda
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini