Menurut Andri, kondisi panas ini disebabkan oleh beberapa faktor meteorologis, termasuk posisi gerak semu matahari yang pada Oktober berada sedikit di selatan ekuator.
“Posisi ini membuat wilayah Indonesia bagian tengah dan selatan menerima penyinaran matahari lebih intens,” jelasnya.
Selain itu, penguatan angin timuran (Monsun Australia) membawa massa udara kering dari Benua Australia menuju Indonesia, mengurangi pembentukan awan dan membuat cuaca lebih cerah.
Kombinasi radiasi matahari dan minimnya tutupan awan turut meningkatkan suhu permukaan secara signifikan.
BMKG mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan, mencukupi kebutuhan cairan, dan menghindari paparan langsung sinar matahari terlalu lama.
Warga juga disarankan memantau informasi cuaca terkini melalui situs resmi www.bmkg.go.id atau aplikasi Info BMKG untuk mengantisipasi perubahan cuaca ekstrem.
