TAJUKNASIONAL.COM Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto menyampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa roda kehidupan masyarakat di Kalimantan Barat (Kalbar) dan Kalimantan Tengah (Kalteng) masih berjalan normal meski kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) cukup tebal.
Namun, kondisi di lapangan menunjukkan dampak karhutla dan kemarau tidak hanya berkaitan dengan gangguan penerbangan.
Sejumlah warga menghadapi persoalan air bersih, kegiatan belajar yang masih dilakukan secara daring, kenaikan harga sejumlah bahan pangan, hingga kualitas udara yang mencapai kategori berbahaya.
Suharyanto menyampaikan laporan tersebut dalam rapat terbatas bersama Presiden Prabowo pada Rabu (23/9/2026). Ia mengatakan lalu lintas darat, toko, rumah makan dan aktivitas masyarakat lainnya tetap berjalan.
Menurutnya, gangguan paling terasa pada akses keluar-masuk Kalbar dan Kalteng melalui transportasi udara akibat asap tebal.
Katanya Normal, Faktanya Air Bersih Jadi Persoalan
Di Kalbar, persoalan kebutuhan dasar berupa air bersih menjadi salah satu bukti bahwa dampak kemarau dan karhutla dirasakan masyarakat.
Pada 15 September 2026, Pemerintah Provinsi Kalbar menyalurkan 40 ribu liter air bersih ke lima titik di Kota Pontianak setelah warga mengeluhkan air PDAM terasa asin dan tidak layak digunakan untuk memasak serta minum.
Pemerintah daerah menyebut kondisi tersebut berkaitan dengan musim kemarau dan intrusi air laut.
Persoalan air bersih juga terjadi di wilayah lain. Sebelumnya, warga Sekunder C, Kabupaten Kubu Raya, mendapat distribusi air bersih karena sumber air mulai terbatas akibat kemarau yang berlangsung bersamaan dengan kondisi karhutla.
Artinya, meski aktivitas ekonomi dan lalu lintas tetap berlangsung, sebagian masyarakat tetap menghadapi persoalan pemenuhan kebutuhan dasar.
Katanya Aktivitas Normal, Faktanya Sekolah Masuk Bulan Kedua Daring
Dampak asap juga terlihat dalam dunia pendidikan.
Pemerintah Kota Pontianak mulai mengalihkan pembelajaran tatap muka ke pembelajaran daring sejak Agustus 2026 akibat memburuknya kualitas udara.
Pada 7 September 2026, sekolah di Pontianak masih menerapkan pembelajaran daring karena asap tetap tebal dan kualitas udara dinilai berbahaya.
Jika dihitung sejak kebijakan awal Agustus hingga akhir September, pembelajaran daring telah memasuki bulan kedua.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas pendidikan tidak sepenuhnya berlangsung seperti keadaan normal. Pembelajaran tetap berjalan, tetapi mekanismenya berubah karena pertimbangan keselamatan siswa dan tenaga pendidik.
Katanya Roda Ekonomi Berjalan, Faktanya Harga Pangan Naik
Dampak terhadap masyarakat juga terlihat dari pergerakan harga pangan.
BPS Kalimantan Barat pada 22 September 2026 memperingatkan bahwa karhutla berpotensi menekan inflasi daerah. Gangguan dapat terjadi pada aktivitas masyarakat, distribusi barang, rantai pasok, serta ketersediaan dan harga sejumlah komoditas pangan.
Di pasar Pontianak, kenaikan harga sejumlah komoditas juga terjadi. Laporan mengenai kondisi pasar pada September mencatat harga beberapa jenis sayuran dan cabai mengalami peningkatan.
Bahkan, Pemerintah Kota Pontianak menyiapkan operasi pasar murah untuk merespons kenaikan harga bahan pokok, terutama cabai.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa roda perdagangan memang tetap bergerak, tetapi bukan berarti dampak ekonomi dari kondisi lingkungan dapat dianggap tidak ada.
Kualitas Udara Pernah Masuk Kategori Berbahaya
Persoalan paling nyata terlihat dari kualitas udara.
Pada 12 September 2026, indeks kualitas udara Kota Pontianak berdasarkan pemantauan IQAir tercatat mencapai 1.368 atau kategori berbahaya. Konsentrasi PM2.5 saat itu mencapai 761 mikrogram per meter kubik.
Beberapa hari kemudian, pada 19 September, pemantauan IQAir yang dikutip Polda Kalbar mencatat AQI Pontianak sebesar 298 atau kategori sangat tidak sehat, dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 223,5 mikrogram per meter kubik.
Kondisi ini menjadi alasan pemerintah daerah meminta masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.
Dengan demikian, pernyataan bahwa aktivitas masyarakat masih berjalan normal perlu dibaca bersama kondisi tersebut. Warga memang masih berbelanja, bekerja, membuka usaha dan melakukan aktivitas sehari-hari, tetapi sebagian harus melakukannya di tengah pembatasan dan risiko akibat kualitas udara.
Asap Masih Tebal, Pemerintah Prediksi Karhutla Berlanjut
BNPB sendiri mengakui asap tebal masih menyelimuti Kalbar dan Kalteng.
Suharyanto mengatakan kondisi tersebut terjadi antara lain karena Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) belum dapat dilakukan secara maksimal. Ia memperkirakan penanganan karhutla dapat berakhir paling cepat pertengahan Oktober dan paling lambat pada minggu ketiga November 2026.
