BNPB Sebut Dampak Karhutla Aktivitas Warga Kalbar-Kalteng Normal, Faktanya Sekolah Daring dan Udara Berbahaya

TAJUKNASIONAL.COM Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa roda kehidupan masyarakat di Kalimantan Barat (Kalbar) dan Kalimantan Tengah (Kalteng) masih berjalan normal meski kedua provinsi diselimuti asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Namun, sejumlah data dan kondisi lapangan menunjukkan gambaran yang berbeda. Dampak asap tidak hanya dirasakan pada penerbangan, tetapi juga menyentuh pendidikan, kesehatan, aktivitas warga hingga kualitas udara.

Suharyanto dalam rapat bersama Presiden pada Rabu (23/9/2026) mengatakan lalu lintas, toko, rumah makan dan aktivitas masyarakat lainnya tetap berjalan. Menurutnya, gangguan utama terjadi pada penerbangan keluar-masuk Kalbar dan Kalteng akibat asap tebal.

Di sisi lain, BNPB sendiri sebelumnya mencatat dampak yang lebih luas di Kalbar. Per 8 September 2026, kepekatan asap dan kualitas udara PM2.5 pada level berbahaya menyebabkan 1.337 kasus ISPA di 14 kabupaten/kota. Kondisi tersebut juga membuat pemerintah memperpanjang pembelajaran dari rumah.

Kalbar: Sekolah Belum Sepenuhnya Kembali Normal

Gambaran aktivitas pendidikan menjadi salah satu indikator yang memperlihatkan dampak asap secara langsung.

Di Kota Pontianak, sekolah masih menerapkan pembelajaran daring pada 7 September karena asap tebal dan kualitas udara dinilai berbahaya. Pemerintah kota menyatakan pembelajaran tatap muka baru dapat kembali dilakukan apabila kondisi udara membaik.

Bahkan pada September, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalbar masih memperpanjang pembelajaran dari rumah hingga 25 September 2026, dengan pembelajaran tatap muka terbatas hanya diberlakukan pada kondisi kualitas udara tertentu.

Artinya, kegiatan pendidikan memang tetap berlangsung, tetapi tidak sepenuhnya dalam kondisi normal. Sebagian siswa harus belajar dari rumah karena lingkungan sekolah dianggap belum aman untuk pembelajaran tatap muka.

Kalteng: 135 Sekolah Beralih ke Belajar dari Rumah

Situasi serupa terjadi di Kalimantan Tengah.

Data Dinas Pendidikan Kalteng per 22 September 2026 menunjukkan 135 satuan pendidikan atau sekitar 32 persen dari 424 satuan pendidikan yang dipantau telah dialihkan ke Belajar dari Rumah (BDR) secara penuh.

Pemindahan pembelajaran tersebut dilakukan ketika rata-rata Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kalteng mencapai 563 atau masuk kategori berbahaya.

Kondisi tersebut bukan hanya berdampak terhadap kegiatan belajar. Dinas Pendidikan Kalteng juga mencatat 339 kasus ISPA berupa batuk dan pilek, 72 kasus sesak napas atau asma, serta 132 kasus iritasi mata dan kulit yang dilaporkan dari satuan pendidikan. Empat kasus bahkan mendapat rujukan ke fasilitas kesehatan.

Udara Berbahaya, Bukan Sekadar Gangguan Penerbangan

Kondisi kualitas udara juga memperlihatkan besarnya dampak asap di kedua provinsi.

Pada 22 September, rata-rata ISPU Kalteng tercatat 563. Pada periode yang sama, BNPB menyebut asap tebal masih menjadi kendala penanganan karhutla.

Dalam evaluasi BNPB pada 21 September, sejumlah wilayah Kalteng bahkan dilaporkan diselimuti asap pekat dengan jarak pandang sekitar 500 meter. Data ISPU menunjukkan kualitas udara di sejumlah kabupaten/kota masuk kategori berbahaya.

Sementara di Kalbar, pemerintah sebelumnya telah mencatat kualitas udara PM2.5 berada pada level berbahaya dan berkontribusi terhadap ribuan kasus gangguan pernapasan yang dilaporkan di tingkat provinsi.

Kondisi tersebut membuat persoalan asap tidak dapat dilihat hanya dari apakah toko masih buka atau kendaraan masih melintas di jalan.

Karhutla Masih Terjadi, Hotspot Masih Tinggi

Data penanganan kebakaran juga menunjukkan situasi belum sepenuhnya normal.

Kementerian Kehutanan melaporkan hingga 22 September terdapat 643 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kalteng dan 50 hotspot di Kalbar. Kalteng menjadi provinsi dengan jumlah hotspot high confidence tertinggi di antara enam provinsi prioritas yang dipantau pemerintah.

BNPB juga menyatakan masih terdapat 209,78 hektare lahan yang terbakar di Sumatra dan Kalimantan.

Suharyanto bahkan memperkirakan karhutla baru dapat berakhir paling cepat pada pertengahan Oktober dan paling lambat pada minggu ketiga November 2026.

Dengan kondisi tersebut, laporan bahwa roda kehidupan tetap berjalan dapat dipahami dalam arti aktivitas masyarakat tidak berhenti total. Namun, indikator di lapangan menunjukkan bahwa “tetap berjalan” tidak selalu berarti “berjalan normal”.

Sekolah dipindahkan ke rumah, kualitas udara masuk kategori berbahaya, kasus gangguan kesehatan tercatat, jarak pandang menurun, dan penanganan kebakaran masih berlangsung.

- Advertisement -
Berita Terbaru
- Advertisement -
Berita Lainnya
Rekomendasi Untuk Anda
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini