Namun, penyamaan gaya tersebut dengan “Jokowisme” juga membawa konsekuensi politik. Ketika pendekatan blusukan semakin identik dengan pencitraan dan popularitas, aktivitas seorang pejabat publik berpotensi dibaca bukan hanya sebagai kerja pemerintahan, tetapi juga sebagai bagian dari pembangunan modal politik.
Pernyataan Dedy Nur Palakka akhirnya menambah sorotan terhadap posisi Dedi Mulyadi di panggung politik nasional. Apalagi, peluang KDM menuju posisi yang lebih tinggi mulai dibicarakan ketika masa pemerintahan dan kontestasi politik nasional masih terus berjalan.
Dengan popularitas yang tinggi dan gaya komunikasi yang sangat dekat dengan masyarakat, Dedi Mulyadi kini tidak hanya menjadi figur penting di Jawa Barat, tetapi juga mulai ditempatkan sebagai salah satu nama yang diperhitungkan dalam peta politik nasional.
