TAJUKNASIONAL.COM Harapan Mamak Ema, warga Kampung Wogikel, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, terdengar sederhana.
Ia berharap suatu saat keluarganya tidak lagi bergantung pada beras yang didatangkan dari luar kampung karena dapat memenuhi kebutuhan pangan dari hasil panen sendiri.
“Selama ini kami membeli beras. Kalau nanti kami sudah punya beras sendiri, kami tidak perlu membeli beras lagi. Itu yang kami harapkan,” ujar Mamak Ema.
Harapan tersebut mulai menemukan titik terang seiring pembangunan infrastruktur yang dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) di kawasan Wanam.
Wilayah yang sebelumnya didominasi rawa dan belum dimanfaatkan secara optimal kini mulai dipersiapkan menjadi kawasan produktif melalui pembangunan jalan, penyediaan infrastruktur air, pembukaan akses, serta pengembangan kawasan pertanian.
Pengembangan Kawasan Swasembada Pangan, Energi, dan Air Nasional (KSPEAN) di Wanam tidak hanya ditujukan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.
Program ini juga diharapkan mampu membuka lapangan pekerjaan, mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, serta menghadirkan peluang baru bagi masyarakat di Papua Selatan.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menegaskan bahwa pembangunan di Wanam tidak semestinya dinilai hanya dari capaian fisik seperti panjang jalan, luas lahan, maupun progres konstruksi.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan diukur dari manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.
“Di Wanam, kita tidak sedang membangun jalan dan saluran air semata. Kita sedang membuka jalan hidup baru bagi masyarakat. Ada ibu-ibu yang ingin berasnya tumbuh dari kampung sendiri, ada anak-anak yang ingin berangkat ke sekolah dengan lebih nyaman, dan ada warga yang ingin punya pekerjaan dari tanahnya sendiri. Itu yang harus kita jaga,” kata Menteri Dody.
Ia menjelaskan bahwa pembangunan infrastruktur sumber daya air dan konektivitas menjadi fondasi utama dalam mengubah lahan yang sebelumnya sulit dimanfaatkan menjadi kawasan pertanian yang produktif.
Ketersediaan air dan akses transportasi diyakini akan mendorong masyarakat untuk ikut berkembang bersama kawasan tersebut.
“Kalau airnya ada, lahan bisa hidup. Kalau jalannya terbuka, hasil panen bisa keluar. Kalau masyarakat ikut bekerja dan ekonominya bergerak, maka pembangunan ini bukan hanya terlihat di peta, tetapi terasa sampai ke rumah-rumah warga. Bagi saya, di situlah arti infrastruktur yang sebenarnya,” ujar Menteri Dody.
Sebagai penunjang kawasan, Kementerian PU membangun jaringan irigasi primer, bangunan pintu air, drainase primer dan sekunder, serta infrastruktur pengendalian banjir guna menjamin ketersediaan air bagi lahan pertanian.
Di sektor konektivitas, pembangunan juga dilakukan melalui Jalan Wanam–Muting sepanjang 138,5 kilometer, koridor Jalan Merauke–Kaliki–Nakias–Bade sepanjang 206,2 kilometer, serta koridor Wogikel–Wanam sepanjang 11,93 kilometer.
Keberadaan jaringan jalan tersebut diharapkan dapat memperlancar mobilitas masyarakat, mempercepat distribusi hasil pertanian, menurunkan biaya logistik, sekaligus memperluas akses warga menuju sekolah, fasilitas kesehatan, pasar, dan pusat-pusat kegiatan ekonomi.
Hingga awal Juli 2026, progres pembangunan infrastruktur sumber daya air telah mencapai 27,36 persen, sedangkan pembangunan jalan dan konektivitas mencapai 22 persen.
Seluruh pekerjaan tersebut dipersiapkan untuk mendukung aktivitas pertanian sekaligus mendorong lahirnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di Papua Selatan.
Dampak pembangunan mulai dirasakan oleh masyarakat setempat. Kepala Kampung Wanam, Kosmas Sirilus Dawi Gaise, mengatakan pembangunan kawasan telah mengubah cara pandang warga terhadap sumber penghidupan.
Jika sebelumnya masyarakat lebih banyak mengandalkan hasil berburu dan menangkap ikan, kini pertanian mulai dipandang sebagai peluang untuk meningkatkan kesejahteraan.
“Dulu kami pikirannya masih berburu dan mencari ikan. Sekarang masyarakat mulai terbuka wawasannya. Kami melihat pertanian ini bisa jadi pekerjaan, hasilnya bisa kami makan sendiri, dan juga bisa dijual. Kami ingin kampung ini berubah menjadi lebih baik,” ujar Kosmas.
Sementara itu, Kepala Balai Wilayah Sungai Papua Merauke, Nonce Saman, menyampaikan bahwa pembangunan infrastruktur akan diikuti dengan pendampingan kepada masyarakat agar fasilitas yang telah dibangun dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
“Kami tidak hanya menyelesaikan pekerjaan konstruksi. Kami juga akan mendampingi masyarakat, mengajarkan cara mengelola air irigasi dan bertani bersama. Harapannya, masyarakat di sini bisa menjadi petani yang mandiri, perekonomiannya meningkat, dan pembangunan ini benar-benar memberi manfaat jangka panjang,” ujar Nonce.
Bagi Mamak Ema, manfaat pembangunan akan semakin terasa apabila kondisi jalan di kampung terus ditingkatkan.
Menurutnya, jalan yang baik bukan hanya mempermudah aktivitas masyarakat, tetapi juga membuat anak-anak lebih aman ketika berangkat ke sekolah.
“Kalau program ini jalan terus, kami berharap kampung ini juga maju. Masyarakat bisa kerja, anak-anak juga lebih mudah ke sekolah kalau jalannya bagus. Harapan kami jalan di kampung bisa diaspal. Kalau hujan, jalannya berlumpur, anak-anak kadang tidak bisa ke sekolah karena jatuh di jalan,” ujarnya.
Pengembangan KSPEAN di Wanam merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk membangun ekosistem pangan yang terintegrasi melalui penyediaan infrastruktur sumber daya air, konektivitas, serta berbagai infrastruktur dasar lainnya.
Sejalan dengan semangat PU608, pembangunan diarahkan untuk menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui terbukanya akses, terciptanya lapangan kerja, tumbuhnya aktivitas ekonomi, serta meningkatnya kesempatan masyarakat untuk berkembang.
Melalui pembangunan jalan yang terus berlanjut dan infrastruktur air yang semakin tertata, Wanam dipersiapkan menjadi kawasan yang lebih produktif.
Pemerintah berharap pembangunan tersebut mampu menjadi fondasi bagi terwujudnya masyarakat yang lebih mandiri, kampung yang semakin maju, serta masa depan yang lebih baik bagi Papua Selatan. (hen)



' +
'