TAJUKNASIONAL.COM Keberhasilan pembangunan infrastruktur nasional tidak hanya bergantung pada besarnya investasi dan kemajuan teknologi, tetapi juga pada kualitas kepemimpinan yang mengarahkan pelaksanaannya.
Integritas, karakter yang kuat, serta keberanian dalam mengambil keputusan menjadi modal penting agar pembangunan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), saat menjadi narasumber dalam Program Presiden untuk Pemimpin Masa Depan (P3MD) di Jakarta, Rabu (14/10/2026).
Dalam kegiatan bertema “Memimpin dengan Jiwa Ksatria: Integritas, Ketangguhan, dan Visi Strategis Insan BUMN dalam Membangun Infrastruktur Indonesia Emas 2045” tersebut, Menko AHY berbagi pandangan mengenai karakter dan kapasitas yang perlu dimiliki calon pemimpin BUMN.
Di hadapan peserta P3MD Batch 1 Angkatan Soedirman, Menko AHY mengingatkan bahwa kemampuan intelektual harus diimbangi dengan karakter, kompetensi kepemimpinan, dan kesiapan untuk mengabdi.
Menurutnya, setiap individu yang menerima amanah perlu mempersiapkan diri agar mampu menjalankan tanggung jawab, termasuk ketika menghadapi tantangan yang menuntut pengorbanan lebih besar.
“IQ alone is not sufficient. Tidak cukup. Kita membutuhkan karakter. Kita perlu leadership. Kita perlu menempa diri kita agar siap. Kata-kata siap itu mengandung banyak makna. Siap untuk bekerja, siap untuk berjuang, berkorban, mengabdi, dan kadang-kadang harus melebihi panggilan tugas,” ujar Menko AHY.
Ia menjelaskan bahwa esensi kepemimpinan tidak berhenti pada kewenangan formal, pangkat, atau jabatan yang dimiliki seseorang.
Lebih dari itu, kepemimpinan harus tercermin melalui hasil kerja dan perubahan positif yang dapat dirasakan masyarakat.
Hal ini menjadi relevan bagi para insan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memegang peranan penting dalam mendukung berbagai agenda pembangunan nasional.
“Leadership should be beyond authority. Kepemimpinan tidak sekadar bicara pangkat dan jabatan. Itu semua berarti, itu semua adalah media untuk kita bisa berkarya dan memahami. Tapi ingat, leadership should be beyond authority. Dan tentunya kita harus melihat dampak yang bisa dirasakan langsung oleh negeri kita, Indonesia, agar negaranya semakin maju, adil, dan sejahtera,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Menko AHY turut menceritakan perjalanan karier dan pengabdiannya, termasuk pengalaman menghadapi kegagalan serta perubahan arah dalam kehidupan.
Ia menilai perjalanan kepemimpinan tidak selalu berlangsung sesuai harapan. Situasi sulit dapat menjadi kesempatan untuk melakukan introspeksi, memperkuat karakter, dan membangun ketangguhan dalam melanjutkan pengabdian.
“Saya kalah, tapi saya tidak patah,” ungkap Menko AHY, merefleksikan pengalamannya saat melewati salah satu fase penting dalam perjalanan kariernya.
Berangkat dari pengalaman itu, ia mengingatkan para peserta agar tidak menjadikan kegagalan sebagai alasan untuk berhenti melangkah.
Kemampuan untuk bangkit dan menghadapi berbagai dinamika merupakan bagian dari proses pembentukan diri seorang pemimpin.
“Jangan pernah takut gagal. Jangan pernah takut kalah. Jatuh bangun, pasang surut itu adalah milik manusia, milik kita semua, milik pemimpin-pemimpin besar,” ujarnya.
Menko AHY selanjutnya menekankan pentingnya orientasi kepemimpinan yang melampaui kepentingan pribadi maupun pencapaian selama masa jabatan.
Seorang pemimpin, menurutnya, perlu memikirkan keberlanjutan dan menyiapkan landasan yang kokoh agar generasi selanjutnya dapat melanjutkan pembangunan dengan lebih baik.
“A great leader is someone who does not only prepare for the next competition, not for the next election, but someone who prepares for the next generation,” kata Menko AHY.
Pandangan tersebut berkaitan erat dengan tugas Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan dalam menyelaraskan dan mengoordinasikan kebijakan pembangunan lintas sektor.
Kerja sama antarkementerian dan lembaga diperlukan agar pembangunan infrastruktur dapat berlangsung secara terpadu, memperkuat konektivitas antarwilayah, mendukung pertumbuhan ekonomi, serta memperluas pemerataan pembangunan di seluruh Indonesia.
Melalui P3MD, Menko AHY mendorong terbentuknya generasi pemimpin BUMN yang menjunjung tinggi integritas, memiliki ketangguhan dalam menghadapi tantangan, dan mampu merumuskan visi strategis untuk masa depan.
Kepemimpinan yang berorientasi pada kepentingan masyarakat, didukung oleh kolaborasi lintas sektor, menjadi bagian penting dalam mendorong pembangunan infrastruktur dan kewilayahan yang terintegrasi serta berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.
Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Wakil Gubernur URI, Yos Sunitiyoso; Komandan P3MD, Marsekal Pertama TNI Dr. Anton Pallaguna; serta Direktur Danantara Corporate University, Handi Kurniawan.
Menko AHY didampingi Staf Khusus Bidang Manajemen dan Kerja Sama Antarlembaga, Agust Jovan Latuconsina; Staf Khusus Bidang Hukum dan Regulasi, Sigit Raditya; serta Tenaga Ahli Menko, Brigjen TNI Rio Neswan. (hen)




' +
'