TAJUKNASIONAL.COM Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) masih terpantau pada Senin (7/9) pagi. Berdasarkan pembaruan BMKG, abu vulkanik bergerak pada arah berbeda di dua lapisan ketinggian dan masih mencakup sejumlah wilayah, termasuk DKI Jakarta, Banten, Lampung, dan Jawa Barat.
Pembaruan pengamatan BMKG pada Senin dini hari menunjukkan abu vulkanik bergerak menjauhi puncak Gunung Anak Krakatau. Pola pergerakannya berbeda antara lapisan atmosfer rendah dan tinggi sehingga wilayah yang berpotensi terdampak juga cukup luas.
Pada lapisan rendah hingga sekitar 15.000 kaki atau 4,57 kilometer, abu bergerak dari arah tenggara menuju barat laut. Sebaran ini mencakup sebagian wilayah Jakarta, Banten, Lampung, Jawa Barat, serta perairan di sekitarnya.
Kondisi tersebut perlu diperhatikan karena abu vulkanik pada lapisan rendah dapat memengaruhi kualitas udara dan jarak pandang. Masyarakat di wilayah yang dilalui sebaran abu diimbau mengikuti perkembangan informasi resmi dan menyesuaikan aktivitas apabila kondisi udara memburuk.
Baca Juga: Pascagempa Flores, Kementerian PU Tegaskan 28 Gedung RSUD Ende Aman Digunakan
Sebaran Abu Bergerak ke Arah Barat
Sementara pada lapisan atmosfer yang lebih tinggi, hingga sekitar 50.000 kaki atau 15,24 kilometer, abu bergerak ke arah barat daya hingga barat.
Sebaran pada lapisan tinggi mencakup wilayah Samudra Hindia di sebelah barat hingga barat daya Bengkulu, Lampung, dan Banten. Pada ketinggian tersebut, keberadaan abu vulkanik menjadi perhatian khusus bagi keselamatan penerbangan karena berada pada jalur lintasan pesawat.
BMKG sebelumnya juga telah mengintensifkan pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau selama 24 jam. Pemantauan dilakukan untuk mengetahui perkembangan abu vulkanik sekaligus dampaknya terhadap atmosfer, penerbangan, dan kondisi laut di sekitar Selat Sunda.
Update terbaru menunjukkan sebaran abu diperkirakan masih bergerak ke arah barat. Arah dan luas sebaran dapat berubah mengikuti kondisi angin pada lapisan atmosfer yang berbeda.
Penerbangan Masih Jadi Perhatian
Pergerakan abu pada ketinggian penerbangan membuat kondisi tersebut perlu menjadi perhatian operator dan penumpang pesawat. Sebelumnya, sebaran abu Gunung Anak Krakatau telah menyebabkan gangguan terhadap operasional sejumlah bandara.
Baca Juga: [Viral] Kebakaran Gunung Andong Magelang Hanguskan 3,67 Hektare Hutan
Karena kondisi atmosfer dapat berubah, informasi mengenai operasional penerbangan juga dapat mengalami pembaruan. Masyarakat yang memiliki jadwal penerbangan disarankan memeriksa informasi terbaru dari maskapai maupun otoritas penerbangan sebelum berangkat.
