TAJUKNASIONAL.COM Pemerintah tengah menyiapkan langkah baru untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG. Salah satu upaya yang sedang dikaji adalah mengganti penggunaan LPG 3 kg dengan Compressed Natural Gas atau CNG.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, mengatakan bahwa proses uji coba pemanfaatan CNG untuk tabung gas 3 kg masih berlangsung. Pemerintah berharap penggunaan bahan bakar gas tersebut dapat mulai diterapkan pada tahun ini apabila hasil pengujian dinilai sesuai.
“CNG ini untuk 3 kg masih kita melakukan exercise dan uji-coba terhadap tabungnya,” kata Bahlil ditemui di Kantornya, Rabu (6/5).
Menurut Bahlil, substitusi LPG 3 kg dengan CNG menjadi salah satu opsi pemerintah untuk menekan impor LPG. Saat ini, kebutuhan LPG nasional mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 7 juta ton masih harus dipenuhi melalui impor.
Baca Juga:Â Harga BBM Nonsubsidi Pertamina Naik per 4 Mei 2026, Dipicu Gejolak Minyak Dunia
CNG sendiri merupakan bahan bakar yang berasal dari gas bumi. Kandungan utamanya adalah metana yang dimampatkan dan disimpan dalam bejana atau tabung bertekanan khusus. Berbeda dengan LPG yang berbentuk cair, CNG tetap berada dalam bentuk gas meskipun telah melalui proses pemampatan.
Dari sisi keamanan, CNG dinilai memiliki karakteristik yang berbeda dibanding LPG. Karena berat jenisnya lebih ringan daripada udara, gas ini akan bergerak naik ke atmosfer apabila terjadi kebocoran.
Hal tersebut membuat CNG lebih sulit membentuk campuran yang mudah terbakar di udara.
Kementerian ESDM menjelaskan bahwa berat jenis CNG berada di kisaran 0,55 sampai 0,80 dibanding udara yang bernilai 1.
Dengan sifat tersebut, gas yang bocor tidak mudah mengendap di area bawah. CNG juga memiliki nilai oktan sekitar 120 dengan nilai kalor pembakaran berkisar 9.000 hingga 11.000 Kcal per kilogram.
Baca Juga:Â AHY Tegaskan Kemakmuran dan Keberlanjutan Harus Jalan Bersama dalam Pembangunan Nasional
Selain dinilai lebih aman, CNG juga disebut sebagai bahan bakar yang lebih ramah lingkungan. Kandungan utama metana dan etana pada CNG memiliki perbandingan atom hidrogen terhadap karbon yang lebih tinggi. Proses pemurniannya juga tidak menggunakan TEL, zat aditif yang biasa dipakai untuk meningkatkan angka oktan.

