TAJUKNASIONAL.COM Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memasuki fase kritis. Konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran yang selama ini berlangsung melalui serangan udara, siber, dan operasi maritim kini berpotensi berkembang menjadi operasi darat terbatas yang jauh lebih berisiko.
Menurut Kolonel Tek RB. Eko Nur Edy Cahyono selaku Analis Kebijakan Madya Bidang Perjanjian Internasional Ditkersinhan Ditjen Strahan Kemhan dalam keterangan tertulisnya, menyebutkan bahwa kemungkinan penggunaan pasukan darat bukan lagi sekadar wacana, melainkan opsi strategis yang mulai diperhitungkan secara serius .
Namun, operasi tersebut diperkirakan tidak akan berbentuk invasi penuh, melainkan langkah militer terbatas dengan tujuan spesifik.
“Operasi darat lebih mungkin bersifat terbatas, koersif, dan berorientasi sasaran, bukan pendudukan nasional,” demikian disebutkan dalam analisis tersebut .
Baca Juga: Daftar Tokoh Penting Iran Tewas dalam Serangan AS-Israel, dari Khamenei hingga Jenderal IRGC
Target Utama: Jalur Energi Dunia hingga Fasilitas Nuklir
Dalam skenario yang berkembang, operasi darat AS–Israel diproyeksikan menyasar titik-titik strategis yang memiliki dampak langsung terhadap kekuatan Iran.
Salah satu target utama adalah Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas global.
Jika Iran mampu mengganggu atau bahkan menutup jalur ini, dampaknya akan langsung terasa pada harga energi dunia dan stabilitas ekonomi global. Karena itu, operasi darat dapat diarahkan untuk mengamankan pulau-pulau atau fasilitas pesisir yang menjadi basis kekuatan Iran di kawasan tersebut.
Selain itu, Kharg Island juga menjadi target penting. Pulau ini dikenal sebagai pusat ekspor minyak Iran dan menjadi tulang punggung ekonomi negara tersebut. Penguasaan atau penonaktifan wilayah ini dinilai mampu memberikan tekanan ekonomi yang signifikan.
Namun, langkah ini juga memiliki konsekuensi besar karena wilayah tersebut rentan menjadi sasaran serangan balasan.
Target lainnya adalah fasilitas nuklir bawah tanah Iran. Sejumlah laporan menunjukkan bahwa sebagian fasilitas nuklir Iran berada di lokasi yang sulit dijangkau oleh serangan udara.
Bahkan, ada indikasi bahwa material sensitif telah dipindahkan ke kompleks bawah tanah untuk menghindari serangan.
Dalam kondisi ini, operasi darat dinilai lebih efektif untuk melakukan pencarian, pengamanan, hingga eksploitasi material nuklir.
Tidak hanya menghancurkan fasilitas, tetapi juga menguasai dokumen, teknologi, dan sumber daya manusia yang menjadi inti program nuklir Iran.
Baca Juga: Termasuk Singapura, Ini Daftar Negara Naikkan Harga BBM Imbas Perang Iran vs AS-Israel
Menghancurkan Pertahanan Iran dari Darat
Selain target ekonomi dan nuklir, operasi darat juga berpotensi diarahkan untuk menghancurkan sistem pertahanan Iran, khususnya Anti-Access/Area Denial (A2/AD). Sistem ini mencakup rudal anti-kapal, drone, ranjau laut, serta jaringan radar yang tersebar di pesisir selatan Iran.
Dengan menghancurkan sistem ini, AS–Israel dapat membuka ruang operasi militer yang lebih luas, sekaligus mengurangi kemampuan Iran dalam melakukan serangan balasan secara asimetris.
Namun, langkah ini bukan tanpa risiko. Sistem pertahanan Iran dirancang dalam pola “mosaic defense” yang tersebar dan sulit dihancurkan secara menyeluruh. Artinya, meskipun beberapa titik berhasil dilumpuhkan, ancaman tetap bisa muncul dari lokasi lain.
Risiko Besar: Dari Eskalasi hingga Perang Berkepanjangan
Di balik potensi keberhasilan taktis, operasi darat ini menyimpan risiko strategis yang tidak kecil. Salah satu ancaman utama adalah mission creep, yaitu meluasnya operasi di luar rencana awal.
Operasi yang awalnya terbatas bisa berkembang menjadi konflik berkepanjangan, terutama jika pasukan harus mempertahankan wilayah yang telah direbut atau menghadapi serangan balasan dari Iran.
Selain itu, terdapat risiko eskalasi regional. Iran memiliki jaringan proksi di berbagai negara Timur Tengah yang dapat diaktifkan untuk menyerang kepentingan AS dan Israel. Serangan tidak langsung, seperti gangguan terhadap jalur pelayaran atau serangan terhadap infrastruktur energi, bisa memicu krisis yang lebih luas.
Bahkan, konflik ini berpotensi melibatkan lebih banyak aktor global, mengingat pentingnya kawasan Timur Tengah dalam peta energi dunia.
Risiko lainnya adalah jebakan strategis. Dalam skenario ini, keberhasilan awal justru dapat menyeret pihak penyerang ke dalam konflik yang lebih kompleks tanpa solusi yang jelas. Iran, dengan kapasitas militernya, masih mampu memberikan perlawanan meskipun beberapa target strategis berhasil dihancurkan.
