TAJUKNASIONAL.COM Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep melanjutkan rangkaian Safari Ramadan dengan menyambangi Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Qadim, Paiton, Kabupaten Probolinggo, Sabtu (28/2/2026).
Di permukaan, PSI membingkai kunjungan ini sebagai silaturahmi dan penguatan nilai moral kader. Namun di ruang publik, gaya politik PSI yang semakin sering “merapat” ke pesantren ikut memantik sorotan terutama karena PSI selama ini lekat dengan citra anak muda yang modern-perkotaan dan kini tampil dengan pendekatan kultural bernuansa agama.
Kunjungan ini juga membawa pesan elektoral yang sulit dipisahkan PSI ingin menegaskan tekad lolos ke Senayan pada Pemilu 2029.
Di titik itulah muncul nada skeptis dari sebagian pengamat dan warganet apakah safari ke pesantren murni ruang belajar moral, atau justru kemasan baru untuk menembus ceruk pemilih religius yang selama ini bukan “rumah” PSI?
Baca Juga: Respon PSI Usai Kaesang Pangarep Didokan Jadi Presiden
Ketua Harian DPP PSI Ahmad Ali menyebut agenda tersebut sebagai bentuk komitmen partai menghentikan aktivitas politik struktural selama Ramadan dan menggantinya dengan silaturahmi.
“Safari ini lanjutan kegiatan Ramadan DPP PSI. Di bulan suci kami menghentikan seluruh kegiatan politik struktural dan memperbanyak silaturahmi ke pondok pesantren,” kata Ahmad Ali.
Ia menekankan posisi pesantren sebagai sumber pembelajaran moral dan spiritual bagi kader partai. PSI, kata dia, ingin menempatkan kiai dan pesantren sebagai rujukan karakter kader.
“Kami bertekad menjadikan kiai dan pesantren sebagai guru bagi kader PSI. Pesantren adalah sekolah ketika kami lelah mengurusi partai politik. Kami mendorong kader untuk datang ke pesantren mengisi batiniah, agar membawa energi positif dalam konsolidasi,” ujarnya.
Di sisi lain, Ahmad Ali tetap membuka ambisi politik PSI secara terang. Ia menolak berspekulasi soal target angka, tetapi menegaskan orientasi utama: tembus parlemen.
“Kami bertekad meloloskan partai ini di parlemen. Soal hasil 2%, 4%, atau 7%, kami tidak dalam posisi menentukannya. PSI didesain adaptif dalam segala situasi dan tetap patuh pada aturan yang ditetapkan DPR dan pemerintah,” tegasnya.
Pernyataan “adaptif” itu justru menjadi titik yang sering dibaca negatif oleh sebagian publik: PSI dinilai menyesuaikan panggung dengan cepat, termasuk memanfaatkan simbol religius saat momentum politik mengarah ke 2029.
Menjawab anggapan safari pesantren sebagai strategi memburu dukungan pemilih santri, Ahmad Ali menyerahkan penilaian kepada masyarakat.
Baca Juga: PSI Tolak Gugatan di MK Larang Keluarga Presiden Nyapres: Nada Keras, Kepentingan Politik Disorot
“Kalau itu dianggap strategi, silakan masyarakat menilai. Bagi kami, mendatangi pesantren adalah kegiatan sosial dan silaturahmi,” ucapnya.
PSI mencatat sudah mengunjungi sedikitnya 10 pesantren dalam rangkaian safari.
