TAJUKNASIONAL.COM Polemik safari Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) kembali memanaskan hubungan antara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Kali ini, kader PSI Dedy Nur Palakka menilai kritik yang diarahkan kepada Jokowi menunjukkan masih adanya kekhawatiran politik di tubuh PDIP terhadap mantan kadernya tersebut.
Menurut Dedy, Jokowi merupakan kader paling sukses yang pernah dimiliki PDIP karena menjadi satu-satunya tokoh partai yang berhasil memenangkan pemilihan presiden secara langsung selama dua periode.
“Sebenarnya ada semacam ketakutan terselubung dalam tubuh PDI-P. Jokowi mantan kader terbaik mereka sepanjang mereka eksis,” ujar Dedy Nur Palakka, dikutip Selasa (4/8/2026).
Baca Juga: Profil Hiththan Hersya Putra, Presiden BEM Unmul yang Mundur Usai Viral Foto Bersama Jokowi
PSI Nilai Pengaruh Jokowi Masih Besar
Dedy menilai hingga kini belum ada kader PDIP lain yang mampu menyamai capaian politik Jokowi. Menurutnya, keberhasilan memimpin Indonesia selama dua periode membuat pengaruh politik Jokowi tetap kuat meski tidak lagi menjadi bagian dari PDIP.
Ia menyebut Jokowi masih memiliki daya tarik politik yang besar di tengah masyarakat sehingga kehadirannya dalam berbagai agenda publik terus menjadi perhatian.
“Karena satu-satunya kader mereka yang bisa terpilih secara langsung jadi presiden dua periode hanya Jokowi,” lanjutnya.
Selain itu, Dedy menilai Jokowi memilih membangun komunikasi politik melalui kerja nyata dibandingkan membalas berbagai kritik yang diarahkan kepada dirinya maupun keluarganya.
Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa pengaruh Jokowi masih diperhitungkan dalam dinamika politik nasional.
PDIP Kritik Safari Jokowi ke NTT
Pernyataan PSI tersebut muncul sebagai respons atas kritik yang sebelumnya disampaikan elite PDIP, Andreas Hugo Pareira, terkait safari Jokowi ke Nusa Tenggara Timur (NTT).
Andreas menilai rangkaian kunjungan mantan presiden itu lebih berorientasi pada kepentingan politik dibandingkan kepentingan masyarakat daerah yang dikunjungi.
Ia juga menuding safari tersebut berpotensi memicu perpecahan di tingkat akar rumput karena dinilai membawa agenda politik tertentu.
Menurut Andreas, kunjungan Jokowi diduga berkaitan dengan upaya meningkatkan dukungan elektoral bagi PSI menjelang kontestasi politik mendatang.
“Bagi Jokowi dan partainya, jelas misinya untuk mendongkrak kepentingan elektoral dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Tapi bagi masyarakat? Tidak jelas misinya, malah justru memecah belah rakyat di akar rumput,” kata Andreas.
