Mengapa Raja Juli Tetap Bertahan dalam Reshuffle?
Di tengah sorotan terhadap karhutla, Raja Juli tidak termasuk pejabat yang diganti dalam pelantikan 15 Oktober 2026.
Hingga pelantikan tersebut berlangsung, belum ada penjelasan resmi yang secara khusus menguraikan alasan Presiden Prabowo mempertahankannya sebagai Menteri Kehutanan.
Karena itu, bertahannya Raja Juli tidak otomatis berarti pemerintah tidak mengevaluasi kinerjanya. Evaluasi internal kabinet dan keputusan untuk mengganti pejabat merupakan dua hal berbeda. Publik juga belum memiliki dasar yang cukup untuk menyimpulkan bahwa Menteri Kehutanan memperoleh perlakuan khusus.
Namun, persoalan ini tetap relevan untuk dipertanyakan. Ketika Presiden melakukan perombakan terhadap sejumlah posisi strategis, masyarakat berhak mengetahui bagaimana pemerintah menilai kinerja kementerian yang menghadapi persoalan lingkungan dengan dampak luas terhadap kehidupan warga.
Pertanyaan pentingnya bukan hanya mengapa Raja Juli belum diganti, melainkan juga indikator apa yang digunakan untuk mengukur keberhasilan Kementerian Kehutanan dalam menangani karhutla.
Apakah evaluasi didasarkan pada luas lahan yang terbakar, keberhasilan mencegah kebakaran berulang, penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti melanggar, atau penurunan dampak asap terhadap masyarakat? Indikator yang jelas diperlukan agar kinerja kementerian dapat dinilai secara objektif.
Bertahannya Raja Juli dalam reshuffle 15 Oktober 2026 belum cukup untuk menyimpulkan bahwa ia bebas dari evaluasi. Namun, pemerintah perlu membuka perkembangan penanganan karhutla, menjelaskan target pencegahan, dan menyampaikan hasil kerja secara transparan.
Selama kebakaran hutan dan lahan masih mengancam lingkungan serta kehidupan masyarakat, ukuran keberhasilan kebijakan kehutanan semestinya terlihat dari hasil nyata di lapangan, bukan semata-mata dari pergantian atau keberlanjutan jabatan menteri.

