TAJUKNASIONAL.COM Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengajak lima mahasiswa dalam kunjungan kerjanya ke Desa Wolomoni, Ende, Nusa Tenggara Timur, Kamis (18/6/2026).
Kehadiran para mahasiswa tersebut menjadi sorotan karena mereka dilibatkan langsung untuk melihat pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis atau MBG di daerah.
Gibran mengatakan, mahasiswa diajak agar dapat melihat kondisi lapangan secara langsung, terutama di wilayah yang jauh dari Jakarta.
Menurutnya, kunjungan ini juga berkaitan dengan banyaknya kritik dan protes mahasiswa terhadap pelaksanaan program MBG.
Baca Juga: Jokowi Mau Blusukan Lagi, PSI Lampung Siapkan Panggung Bersama Relawan Gibran
“Bapak ibu ini saya ajak perwakilan dari mahasiswa. Kemarin banyak yang demo protes agar MBG ini disetop, makanya hari ini mereka saya ajak ke area yang jauh dari Jakarta,” kata Gibran dalam forum diskusi bersama guru dan orang tua murid di SD Negeri Wolomoni, Ende, NTT, Kamis (18/6/2026).
Adapun lima mahasiswa yang ikut dalam kunjungan kerja Wapres Gibran sebagai berikut:
- Keletus Sakaro dari Universitas Sanata Dharma
- Daffa Ulhaq dari Universitas Indonesia
- Nolan Christoper Adam dari Universitas Pelita Harapan
- Rapid Bena Matin dari Universitas Jenderal Soedirman
- Salsabila Maulida dari Institut Seni Budaya Indonesia.
Daftar tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa yang diajak berasal dari latar kampus yang berbeda.
Ada perwakilan dari perguruan tinggi negeri, perguruan tinggi swasta, hingga institusi seni dan budaya. Mereka ikut dalam agenda kunjungan untuk melihat langsung pelaksanaan program prioritas pemerintah.
Dalam kesempatan itu, Gibran menegaskan bahwa MBG merupakan program penting, terutama untuk daerah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T.
Ia menilai program tersebut tetap perlu dilanjutkan, tetapi harus disertai perbaikan tata kelola agar berjalan lebih tepat sasaran.
Baca Juga: Mahasiswa Diajak Gibran Tinjau MBG dan Koperasi Desa, DPR RI Ingatkan Agar Tetap Kritis
“Saya pribadi ini harus dilanjutkan terutama di daerah 3T,” ucap Gibran.
Gibran juga mengakui bahwa pelaksanaan MBG masih memiliki sejumlah kekurangan. Ia menyebut pemerintah perlu terus melakukan pembenahan, terutama setelah muncul kasus dugaan korupsi dalam tata kelola program tersebut.
“Saya sadar MBG masih banyak kekurangannya dan kemarin sudah kepalanya baru saja ditangkap. Ini ke depan harus lebih banyak lagi perbaikan, tata kelolanya diperbaiki biar lebih efisien. Jangan lagi ada pengadaan pengadaan barang yang tidak sesuai, dan yang paling penting praktek praktek korupsinya harus dihilangkan,” ujar Gibran.
