TAJUKNASIONAL.COM Di sudut Desa Mahalona, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, pagi datang bersama aroma tanah basah dan barisan tanaman lada yang tumbuh rapi.
Di antara hamparan itu, Tauri Saputra, transmigran asal Solo, memulai harinya menyusuri kebun yang kini menjadi sumber harapan sekaligus bukti perjalanan hidupnya yang berliku.
Tak banyak yang tahu, sebelum berdiri di tengah kebun lada yang menjanjikan, Tauri pernah menghabiskan hari-harinya sebagai pengemudi ojek online dan pekerja serabutan tanpa kepastian penghasilan.
Hidup berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, tanpa kepastian.
Hingga sebuah keputusan mengubah arah hidupnya dengan mengikuti Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) di Balai Besar Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi (BBPPMT) Yogyakarta.
“Saya mantan ojek online dan pekerja serabutan yang sedang berjuang di tanah transmigrasi. Hidup adalah perjalanan, dan Sulawesi adalah pelabuhan berikutnya,” tutur Tauri, mengenang titik balik itu.
“Kalau pengemudi ojek online penghasilannya pas-pasan,” lanjutnya.
Dari ruang kelas pelatihan, ia membawa pulang lebih dari sekadar pengetahuan.
Ada keyakinan baru, juga keberanian untuk memulai kembali di tanah yang belum sepenuhnya ia kenal.
Luwu Timur menjadi lembaran berikutnya tempat ia menanam harapan, secara harfiah, di atas sebidang lahan transmigrasi.
Pilihan Tauri jatuh pada lada, komoditas yang dikenal sebagai “emas hitam” di Sulawesi Selatan.
Berbekal ilmu yang ia dapatkan selama pelatihan, ia mulai mengolah lahan yang belum optimal.
Satu per satu bibit ditanam, dirawat dengan telaten, mengikuti teknik budidaya yang telah dipelajarinya dari penanaman hingga perawatan intensif.
