Organisasi yang didirikan pada 2005 oleh Ani Yudhoyono itu juga berupaya membuka ruang lebih luas bagi perempuan muda untuk berkembang menjadi pemimpin masa depan.
Dalam forum tersebut, kedua pihak turut membahas perkembangan keterwakilan perempuan di politik Indonesia pascareformasi.
Kebijakan kuota 30 persen keterwakilan perempuan dinilai telah membuka peluang lebih besar bagi perempuan untuk masuk ke dunia politik dan parlemen.
Selain membahas pendidikan kepemimpinan dan program mentorship, pertemuan juga membuka peluang kerja sama antara organisasi perempuan Indonesia dan Singapura dalam memperkuat jaringan kepemimpinan perempuan di tingkat regional.
PDRI berharap dialog ini dapat menjadi langkah awal untuk mempererat kolaborasi antarnegara ASEAN dalam mencetak lebih banyak pemimpin perempuan yang mampu membawa dampak positif bagi masyarakat dan demokrasi kawasan.
