TAJUKNASIONAL.COM Perbaikan jembatan kayu di Blok 100, Kawasan Transmigrasi UPT Rano, Desa Mehalaan Barat, Kabupaten Mamasa, membuka akses baru bagi petani kopi menuju fasilitas pengeringan hasil panen.
Perbaikan dilakukan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Brawijaya bersama sekitar 30 warga pada 6-10 September 2026. Selain mengganti kayu jembatan yang lapuk, mereka membuka jalan sepanjang 100 meter menuju rumah pengering kopi yang tengah dibangun.
Jembatan sepanjang lima meter tersebut merupakan akses penting bagi sekitar 10 kepala keluarga, termasuk anak-anak yang bersekolah di SD Negeri 009 Rano dan warga yang menuju Mushala Darul Muhlisin.
Ketua Gapoktan Kopi Alam Rano, Solikhin, mengatakan perbaikan akses akan mempermudah mobilitas warga sekaligus pengangkutan hasil perkebunan.
“Kalau aksesnya bagus dan aman, mobilitas warga jadi lancar dan pengangkutan hasil panen menuju tempat pengeringan juga jauh lebih mudah,” ujar Solikhin.
Selama ini, petani mengandalkan terpal di pinggir jalan untuk menjemur kopi. Ketika hujan, hasil panen kembali basah sehingga kualitas dan nilai jualnya berpotensi turun.
Rumah pengering yang dibangun menggunakan teknologi efek rumah kaca diharapkan menjadi solusi untuk menjaga kualitas kopi. Fasilitas tersebut dirancang agar dapat dikelola langsung oleh masyarakat.
Selain memperbaiki infrastruktur, kegiatan TEP turut memperkuat hubungan warga lokal dan transmigran. Solikhin menyebut pekerjaan yang sulit dilakukan sendiri menjadi lebih ringan melalui gotong royong.
Ketua TEP Universitas Brawijaya, Bambang Susilo, menilai keterlibatan masyarakat menjadi dorongan penting bagi tim dalam menjalankan pendampingan di kawasan transmigrasi.
Kolaborasi tersebut sejalan dengan arah Transformasi Transmigrasi yang dikembangkan Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara, yang menempatkan kawasan transmigrasi sebagai ruang pembangunan kehidupan dan ekonomi masyarakat.
