TAJUKNASIONAL.COM Ketegangan antara Pakistan dan Afghanistan kembali meningkat tajam setelah negosiasi perdamaian di Istanbul, Turki, gagal mencapai kesepakatan.
Pertemuan yang diharapkan menjadi langkah menuju stabilitas kawasan justru berakhir dengan saling tuding dan ancaman perang terbuka.
Dalam pertemuan tersebut, delegasi Pakistan dan Taliban Afghanistan gagal mencapai titik temu terkait isu keamanan lintas perbatasan dan tuduhan terorisme. Kedua pihak saling menyalahkan atas kegagalan tersebut.
Taliban menuding Pakistan “tidak bertanggung jawab dan tidak beriktikad baik”, sementara pihak Islamabad menyebut pemerintahan Taliban tidak bisa diandalkan dalam menepati janji perdamaian.
“Kami memulai pembicaraan dengan iktikad baik dan otoritas penuh, tapi Pakistan tidak mau serius dan selalu menghindar dari tanggung jawabnya,” ujar Zabihullah Mujahid, juru bicara Taliban.
Baca Juga: Bentrokan Militer Pakistan–Afghanistan Kembali Memanas, Puluhan Tewas dan Ratusan Luka-luka
Taliban Ancam Balas Serangan Pakistan
Taliban memperingatkan bahwa setiap agresi terhadap wilayah Afghanistan akan dibalas dengan tindakan tegas.
Mujahid menegaskan bahwa pemerintah Kabul tidak akan membiarkan tanah Afghanistan digunakan untuk kepentingan negara lain.
“Tanah Afghanistan tidak akan digunakan untuk melawan negara mana pun. Kami akan menjaga kedaulatan kami dengan cara apa pun,” tegas Mujahid.
Ia menambahkan bahwa rakyat Pakistan dianggap sebagai saudara seiman, namun membela tanah air adalah kewajiban dalam Islam.
Karena itu, setiap bentuk serangan akan direspons dengan kekuatan penuh.
Dari sisi Pakistan, Menteri Pertahanan Khwaja Asif mengonfirmasi bahwa negosiasi memang berakhir tanpa hasil konkret.
Ia menyebut Taliban hanya memberikan jaminan lisan tanpa komitmen tertulis, sesuatu yang dianggap tidak cukup untuk menjamin keamanan kawasan.
“Kabul tidak mau maju selain dengan jaminan lisan, sementara kami hanya bisa menerima perjanjian tertulis,” ujar Asif dalam konferensi pers usai pertemuan.
