TAJUKNASIONAL.COM Wacana boikot Piala Dunia FIFA 2026 yang akan berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko kembali menguat setelah mantan Presiden FIFA Sepp Blatter menyatakan dukungannya terhadap seruan tersebut.
Pernyataan Blatter menjadi sorotan dunia sepak bola internasional dan menambah momentum perdebatan mengenai kelayakan AS sebagai salah satu tuan rumah turnamen terbesar di olahraga ini.
Blatter, yang menjabat Presiden FIFA periode 1998–2015 dan kini tidak aktif dalam struktur organisasi, mengunggah pernyataannya di platform X pada Senin.
Dalam unggahan itu ia mengutip Mark Pieth, seorang profesor hukum dan pakar antikorupsi dari Swiss, yang sebelumnya mewawancarai media Swiss Der Bund mengenai kekhawatirannya terhadap penyelenggaraan Piala Dunia di AS.
Baca Juga: Kiper Timnas Indonesia, Maarten Paes Dikabarkan Sepakat Gabung Ajax Amsterdam, Kontrak hingga 2029
Pieth menilai bahwa kondisi sosial dan kebijakan tertentu di AS membuat para penggemar sepak bola perlu mempertimbangkan ulang kunjungan langsung ke negara itu.
“Saya pikir Mark Pieth benar untuk mempertanyakan Piala Dunia ini,” tulis Blatter dalam unggahan yang dikutip pada Selasa (27/1/2026).
Pernyataan tersebut mencerminkan kekhawatiran akan faktor keamanan, prosedur imigrasi, dan risiko bagi suporter asing yang berencana hadir.
Dalam wawancara dengan media Swiss, Pieth menyampaikan saran tegas kepada para suporter sepak bola untuk menghindari perjalanan ke AS dan lebih baik menyaksikan pertandingan dari rumah melalui siaran televisi, alih-alih menghadapi potensi risiko yang bisa muncul saat berada di lokasi turnamen.
Isu ini tidak hanya mengemuka dari Blatter dan Pieth. Suara serupa juga muncul dari tokoh lain di Eropa, termasuk anggota federasi sepak bola Jerman yang menyoroti peluang boikot sebagai respons terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat, seperti klaim atas Greenland yang menuai kritik internasional.
Baca Juga: Jadwal Timnas Futsal Indonesia vs Kirgistan Piala Asia Futsal 2026, Garuda Incar Tiket Gugur
Piala Dunia 2026 sendiri dijadwalkan berlangsung dari 11 Juni hingga 19 Juli 2026, dengan Amerika Serikat menjadi tuan rumah bersama Kanada dan Meksiko.
Meski demikian, kontroversi terus berkembang, dengan isu yang mencakup harga tiket pertandingan, kebijakan visa ketat terhadap warga beberapa negara, dan dinamika politik yang dianggap kurang ramah bagi suporter asing.
Gerakan boikot ini semakin nyata di media sosial dan sejumlah platform online yang mengajak suporter untuk tidak menghadiri pertandingan di AS musim panas ini.
Beberapa petisi pendukung boikot bahkan telah memperoleh puluhan ribu tanda tangan hanya dalam beberapa hari menjelang perhelatan.
