Menteri Transmigrasi Iftitah Ungkap Strategi Pengentasan Kemiskinan Lewat Industrialisasi

TAJUKNASIONAL.COM Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara mendorong mahasiswa Indonesia di Tiongkok memanfaatkan ilmu pengetahuan, penelitian, dan teknologi untuk menciptakan lapangan kerja serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Iftitah saat berdialog dengan mahasiswa Indonesia di Hotel Kunlun, Beijing, Selasa (13/10/2026). Pertemuan itu membahas peran pendidikan tinggi dalam mendukung industrialisasi, pembangunan pedesaan, dan pengentasan kemiskinan.

Iftitah menjelaskan transformasi transmigrasi diarahkan untuk membangun pusat pertumbuhan ekonomi baru, terutama di luar Jawa, dengan menghubungkan potensi sumber daya alam, investasi, teknologi, dan tenaga kerja terampil.

“Visi kami, cara mengentaskan kemiskinan itu dengan memberi pekerjaan formal melalui industrialisasi,” ujar Iftitah.

Dalam dialog tersebut, Moh. Taqiyuddin Saleh membagikan pengalaman pendampingan desa oleh perguruan tinggi di Tiongkok. Melalui program tersebut, dosen dan mahasiswa terlibat selama enam bulan hingga satu tahun untuk memetakan masalah desa, mengidentifikasi potensi komoditas, serta menghubungkan produk masyarakat dengan pasar.

Pendekatan itu dinilai relevan dengan program Tim Ekspedisi Patriot Kementerian Transmigrasi yang melibatkan akademisi, peneliti, mahasiswa, dan tenaga profesional untuk mendukung pembangunan kawasan transmigrasi.

Iftitah mencontohkan teknologi pengeringan dan pengolahan hasil pertanian dapat menjadi solusi ketika panen tomat atau cabai melimpah, tetapi harga jual turun. Pengolahan pascapanen memungkinkan produk bertahan lebih lama sekaligus membuka peluang pasar baru.

Diskusi juga menyoroti ketidaksesuaian antara pendidikan dan pekerjaan. Michael Tjahjadi, mahasiswa doktoral di Central University of Finance and Economics, membahas persoalan horizontal mismatch, yakni ketidaksesuaian bidang pekerjaan dengan pendidikan atau keahlian seseorang.

Menanggapi hal tersebut, Iftitah memaparkan gagasan Kampus Patriot yang menghubungkan pendidikan, penelitian, dan praktik dengan kebutuhan industri di kawasan transmigrasi. Salah satu contohnya ialah pengembangan keterampilan yang relevan dengan industri berbasis tebu di Melolo, Sumba Timur.

Iftitah turut mengajak mahasiswa Indonesia di Tiongkok memperluas pengalaman, menguasai teknologi, dan membangun jejaring internasional agar pengetahuan yang diperoleh dapat berkontribusi bagi pembangunan nasional.

Menurutnya, keberhasilan transformasi transmigrasi tidak hanya ditentukan oleh investasi dan infrastruktur, tetapi juga kemampuan masyarakat memanfaatkan pengetahuan untuk meningkatkan produktivitas, memperoleh pekerjaan, dan memperbaiki taraf hidup.

IKUTI BERITA TERBARU TAJUK NASIONAL, MELALUI MEDIA SOSIAL KAMI

- Advertisement -
Berita Terbaru
- Advertisement -
Berita Lainnya
Rekomendasi Untuk Anda
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini