TAJUKNASIONAL.COM Kementerian Transmigrasi mendorong penguatan hilirisasi kelapa di kawasan transmigrasi Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, untuk menangkap peluang ekspor ke Tiongkok yang memiliki kebutuhan kelapa mencapai sekitar 4 miliar butir per tahun.
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara bersama Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia, Wang Lutong, meninjau langsung aktivitas industri pengolahan kelapa di PT Natural Indococonut Organik (NICO), Rabu (3/6/2026).
Menurut Iftitah, kawasan transmigrasi kini berkembang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang tidak hanya menghasilkan komoditas mentah, tetapi juga produk bernilai tambah melalui proses hilirisasi.
“Kebutuhan kelapa di Tiongkok sangat besar, mencapai sekitar 4 miliar butir per tahun. Sementara yang bisa dipenuhi dari dalam negeri mereka hanya sekitar 1 miliar butir,” ujar Iftitah.
Baca Juga: Cyber Security Berbasis AI Karya Anak Bangsa Diperkenalkan, Menteri Ekraf Beri Dukungan
Ia menjelaskan, kehadiran industri pengolahan kelapa telah meningkatkan kesejahteraan petani. Harga kelapa yang sebelumnya hanya berkisar Rp500 hingga Rp700 per butir kini naik menjadi Rp2.500 hingga Rp3.000 per butir seiring meningkatnya permintaan industri.
Selain itu, sekitar 85 persen tenaga kerja di industri tersebut berasal dari masyarakat lokal dengan pendapatan di atas upah minimum regional.
