TAJUKNASIONAL.COM Ketegangan politik antara Partai Solidaritas Indonesia atau PSI dan PDI Perjuangan kembali mencuat setelah muncul kabar Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi akan menjadi Ketua Dewan Pembina PSI.
Ketua DPP PSI Bestari Barus merespons pernyataan politikus PDIP Guntur Romli yang sebelumnya menyebut Jokowi tidak mampu membantu PSI lolos ke parlemen saat masih menjabat presiden, apalagi setelah tidak lagi memegang jabatan negara.
Bestari menegaskan bahwa saat masih menjabat sebagai presiden, Jokowi memang tidak pernah secara terbuka menyatakan dukungan kepada PSI.
Menurutnya, sikap tersebut justru menunjukkan Jokowi sebagai sosok negarawan yang menjaga stabilitas politik nasional.
Ia menyebut Jokowi saat itu tidak ingin memperlihatkan keberpihakan politik secara langsung kepada PSI, meski partai tersebut dipimpin putra bungsunya, Kaesang Pangarep.
Baca Juga: Memanas! PDIP Sindir Jokowi Gagal Bantu PSI, Bestari Barus Beri Balasan Menohok
“Nah kalau dulu karena beliau tidak pernah menyatakan beliau itu di PSI, karena beliau sangat negarawan demi menjaga stabilitas politik nasional, yang tidak disadari itu oleh Guntur Romli ya, maka efek ekor jas itu jatuh kepada partainya yang lama, PDI itu,” kata Bestari, Kamis (28/5).
Bestari menilai kritik PDIP tidak sepenuhnya tepat. Ia berpendapat, kegagalan PSI masuk parlemen pada Pemilu 2024 tidak bisa langsung dianggap sebagai bukti lemahnya pengaruh Jokowi.
Sebab, menurutnya, Jokowi tidak pernah secara eksplisit meminta publik mendukung PSI pada masa itu.
Sebaliknya, Bestari mengklaim efek elektoral Jokowi justru masih menguntungkan PDIP sebagai partai lama yang pernah menaungi mantan Wali Kota Solo tersebut.
Karena itu, ia menilai situasi saat ini berbeda setelah Jokowi disebut semakin terbuka mendukung PSI.
Bestari mengatakan Jokowi kini berulang kali menyampaikan akan turun membantu PSI. Ia meyakini dukungan terbuka tersebut dapat memberi dampak terhadap elektabilitas partai ke depan.
Menurut Bestari, para pemilih diam atau silent voters mulai memperhatikan perubahan arah politik Jokowi. Ia mengklaim sebagian pemilih mulai menyadari bahwa Jokowi kini lebih identik dengan PSI.
“Bahkan yang silent voters itu pun mulai bergeming, mulai berpikir ‘Oh ternyata Pak Jokowi sekarang sudah PSI’,” katanya.
Sebelumnya, PDIP melalui Guntur Romli menyindir rencana penetapan Jokowi sebagai Ketua Dewan Pembina PSI. Guntur menilai posisi tersebut tidak akan banyak berpengaruh terhadap nasib politik PSI.
“Secara logika sederhana saja, waktu Jokowi jadi Presiden tidak mampu meloloskan PSI ke Parlemen, apalagi sekarang tidak jadi apa-apa,” kata Guntur.
Baca Juga: Jokowi Mau Keliling Indonesia, PDIP Pertanyakan Manfaat Aspirasi untuk Rakyat
Relasi Jokowi dan PDIP memang merenggang setelah dinamika politik Pilpres 2024. Putra Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, maju sebagai cawapres Prabowo Subianto setelah putusan Mahkamah Konstitusi membuka jalan bagi pencalonannya.
Selain Jokowi, Gibran dan Bobby Nasution juga pernah berada dalam orbit PDIP. Bobby bahkan diusung hingga menang dalam Pilkada Medan 2020.
