TAJUKNASIONAL.COM Nama KH Hasan Abdullah Sahal menjadi perhatian setelah pidatonya dalam resepsi 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026), viral di media sosial.
Di hadapan Presiden Prabowo Subianto dan ribuan undangan, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor tersebut menyampaikan pidato dengan gaya lugas dan diselingi humor.
Salah satu bagian yang mendapat perhatian adalah ketika Kiai Hasan menyinggung fenomena orang yang gemar “cari muka”.
Ia memberikan sejumlah perumpamaan, mulai dari orang yang tidak memiliki ijazah tetapi mencari ijazah, tidak mempunyai nama mencari nama, hingga orang yang tidak memiliki jabatan berusaha mendapatkan jabatan.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam suasana peringatan satu abad Gontor dan disambut tawa serta tepuk tangan hadirin. ANTARA juga mencatat Kiai Hasan menyampaikan candaan tersebut ketika Presiden Prabowo hadir dalam acara tersebut.
Putra Pendiri Gontor
KH Hasan Abdullah Sahal lahir di Desa Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, pada 24 Mei 1947. Ia merupakan putra keenam KH Ahmad Sahal, salah satu dari tiga tokoh yang dikenal sebagai Trimurti pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor.
Tiga tokoh tersebut adalah KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fananie dan KH Imam Zarkasyi. Gontor sendiri berdiri pada 20 September 1926 dan pada 2026 memperingati satu abad perjalanan lembaga pendidikan tersebut.
Latar belakang keluarga tersebut membuat Hasan Abdullah Sahal tumbuh dalam lingkungan pendidikan pesantren. Ia menempuh pendidikan dasar di Gontor hingga 1959 dan kemudian melanjutkan pendidikan di Kulliyatu-l-Mu’allimin al-Islamiyah (KMI) Pondok Modern Gontor.
Ia menyelesaikan pendidikan KMI pada 1965. Setelah itu, Hasan melanjutkan studi di Fakultas Ushuluddin Institut Pendidikan Darussalam (IPD), yang kemudian berkembang menjadi bagian dari sejarah pendidikan tinggi Gontor.
Pernah Kuliah di Madinah dan Al-Azhar
Selain melanjutkan pendidikan, Hasan Abdullah Sahal juga mengajar di KMI Gontor selama sekitar dua setengah tahun.
Pada 1967, ia melanjutkan pendidikan ke Fakultas Da’wah dan Ushuluddin Universitas Islam Madinah Al-Munawwarah, Arab Saudi.
Perjalanan akademiknya kemudian berlanjut ke Mesir. Pada 1992, Kiai Hasan mengambil spesialisasi Hadits di Universitas Al-Azhar.
Riwayat pendidikan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan Kiai Hasan sebelum kemudian dipercaya memegang kepemimpinan di Gontor. Profil resmi Gontor mencatat bahwa ia juga pernah mengikuti berbagai kegiatan dakwah dan seminar di sejumlah negara.
Memimpin Gontor Sejak 1985
Perjalanan Hasan Abdullah Sahal dalam kepemimpinan Gontor dimulai pada 1985.
Setelah wafatnya KH Imam Zarkasyi pada tahun tersebut, Badan Wakaf Gontor menetapkan tiga pimpinan baru, yakni KH Shoiman Luqmanul Hakim, KH Abdullah Syukri Zarkasyi dan KH Hasan Abdullah Sahal.
Kiai Hasan kemudian terus menjadi bagian dari kepemimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor. Saat ini, ia memimpin Gontor bersama Prof KH Amal Fathullah Zarkasyi dan KH Muhammad Akrim Mariyat.
Selain memimpin Gontor, Kiai Hasan tercatat sebagai pendiri Pondok Pesantren Putri Al-Mawaddah Coper, Jetis, Ponorogo, pada 1989. Ia juga menjadi pendiri sekaligus pengasuh Pondok Tahfidz Qur’an Al-Muqoddasah Nglumpang, Mlarak, pada 1992.
Ia juga memiliki pengalaman sebagai pengajar dan penulis. Sejumlah karya yang tercatat dalam profil resmi Gontor antara lain Membina Keluarga Muslim, Pegangan Para Qori’, Obsesi Hasan Abdullah Sahal, Ceramah-ceramah Kontemporer, serta Allamatnil Hayah atau Kehidupan Mengajariku jilid I, II dan III.
Pidato Viral di Depan Prabowo
Nama Kiai Hasan kembali menjadi perhatian setelah menyampaikan sambutan pada puncak resepsi 100 tahun Gontor.
Dalam pidatonya, ia sempat menyampaikan candaan kepada Presiden Prabowo sebelum mengaitkannya dengan fenomena “cari muka”. Salah satu bagian pidatonya menyebut orang yang mencari sesuatu yang tidak dimilikinya, seperti ijazah, nama, uang, jabatan hingga muka.
Selain soal “cari muka”, Kiai Hasan juga menyampaikan prinsip kehidupan pimpinan Gontor. Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan bahwa pimpinan pondok tidak seharusnya hidup lebih mewah daripada santri dan membuka ruang bagi santri untuk menyampaikan protes apabila terdapat ketimpangan.
Pidato tersebut kemudian menjadi perhatian publik karena disampaikan langsung di hadapan Presiden Prabowo dalam acara yang juga dihadiri sejumlah pejabat, tokoh pendidikan, perwakilan negara sahabat dan alumni Gontor.
Di luar pidato yang viral, sosok Kiai Hasan memiliki perjalanan panjang dalam pendidikan dan kepemimpinan pesantren. Lebih dari empat dekade, ia menjadi bagian dari kepemimpinan Gontor sekaligus terlibat dalam pengembangan sejumlah lembaga pendidikan pesantren.
