Proyek tersebut merupakan bagian dari program Fat Burning Bali yang diarahkan untuk menggantikan pembangkit listrik berbahan bakar minyak (BBM) dengan energi surya.
PLTS di Bali dirancang memiliki kapasitas 300 MWp, sedangkan BESS mencapai 1.000 MWh. Proyek tersebut membutuhkan lahan sekitar 321 hektare dan ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2028.
Program PLTS 100 GWp menjadi salah satu langkah pemerintah dalam memperluas pemanfaatan energi terbarukan sekaligus menjangkau desa-desa yang masih menghadapi keterbatasan akses listrik.
