Terlebih, konten yang menyangkut identitas seseorang dan afiliasi politik dapat dengan mudah memicu persepsi publik.
Persoalan tersebut juga memperlihatkan tantangan baru dalam politik digital, terutama ketika teknologi AI semakin mudah digunakan untuk membuat atau memanipulasi gambar. Konten visual yang tampak meyakinkan dapat digunakan untuk membangun narasi tertentu sebelum kebenarannya diperiksa.
Meski unggahan tersebut telah dihapus dari akun Instagram Jokowi, PDIP menganggap kejadian ini menjadi pengingat mengenai pentingnya kehati-hatian dalam mengelola kanal komunikasi milik tokoh publik.
Guntur mengimbau masyarakat tidak langsung mempercayai informasi provokatif yang beredar di media sosial, terutama konten yang menggunakan gambar sebagai dasar tuduhan.
“Jangan mudah percaya narasi provokatif, cek-cek fakta sebelum sebar, saring sebelum sharing,” tandasnya.

