TAJUKNASIONAL.COM Istilah “El Nino Godzilla” kembali menjadi perhatian setelah Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengingatkan potensi meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia pada 2026.
Namun, perlu ditegaskan bahwa El Nino Godzilla bukan istilah ilmiah resmi dalam klimatologi.
Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan El Nino dengan intensitas sangat kuat.
Dalam konteks Indonesia, fenomena ini patut diwaspadai karena El Nino dapat membuat kondisi lebih kering dan meningkatkan risiko kekeringan serta karhutla.
Apa Itu El Nino Godzilla?
El Nino merupakan fenomena iklim yang ditandai oleh pemanasan suhu permukaan laut di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik tropis.
Perubahan tersebut dapat memengaruhi pola cuaca global, termasuk mengurangi curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
BacaJuga: Karhutla di Banjar Baru Capai 969 Hektare, Warga Diminta Pakai Masker
Sementara “El Nino Godzilla” merupakan istilah populer, bukan kategori resmi. Karena itu, penyebutan tersebut tidak berarti terdapat tingkatan El Nino baru di atas kategori kuat.
Kondisi El Nino 2026 memang menunjukkan intensitas yang sangat tinggi. Berdasarkan analisis BMKG Dasarian I Agustus 2026, anomali suhu permukaan laut di wilayah Nino 3.4 mencapai +2,77°C, yang dikategorikan sebagai El Nino dengan intensitas sangat kuat. Pada saat yang sama, indeks Indian Ocean Dipole (IOD) berada pada fase positif dengan nilai +0,457.
Kapan El Nino 2026 Berakhir?
Pertanyaan mengenai kapan El Nino akan berakhir belum memiliki tanggal pasti. Namun, BMKG memberikan proyeksi yang cukup jelas.
Dalam siaran pers 30 Juli 2026, BMKG menyatakan El Nino diperkirakan bertahan setidaknya hingga awal kuartal I 2027, dengan puncak intensitas diproyeksikan melampaui kategori kuat.
BMKG juga memperkirakan IOD positif berpotensi aktif pada September–Desember 2026.
Artinya, masyarakat tidak sebaiknya menganggap El Nino akan berakhir setelah puncak kemarau Agustus atau September. Dampaknya masih berpotensi terasa hingga awal 2027.
Proyeksi tersebut sejalan dengan laporan World Meteorological Organization (WMO).
Pada 31 Juli 2026, WMO menyebut El Nino kuat masih berkembang dan diperkirakan menguat selama Agustus–Oktober. Model WMO memperkirakan intensitasnya mencapai puncak sekitar November.
Sementara itu, sistem prediksi GFDL NOAA pada 6 Agustus 2026 memperkirakan El Nino terus menguat hingga musim gugur dan kemungkinan mencapai puncak antara Oktober 2026 hingga Januari 2027.
Baca Juga:Cara Melihat Titik Hotspot Karhutla di Indonesia via Situs Resmi
Indonesia dan Ancaman Karhutla
Dampak kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena sebagian wilayah Indonesia sedang menghadapi musim kemarau. BMKG memprediksi puncak musim kemarau 2026 berlangsung terutama pada Agustus hingga September.
Kalimantan termasuk wilayah yang perlu mendapat perhatian.
