Berbeda dengan SBY, Presiden ke-7 RI, Joko Widodo atau Jokowi lebih menekankan pentingnya menjaga fundamental ekonomi makro tetap kuat saat rupiah mengalami tekanan.
Ketika kurs dolar AS sempat menembus Rp16 ribu, Jokowi mengakui situasi tersebut sempat membuat pemerintah waspada.
Namun, ia tetap menekankan langkah-langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan global.
“Kemarin kita agak ngeri juga waktu kurs rupiah ke dolar melompat di atas Rp16 ribu. Rp16.200 kita mulai ketar-ketir karena negara lain melompat,” kata Jokowi di Jakarta, Senin (27/5/2024).
Sementara itu, Presiden RI, Prabowo Subianto memiliki pendekatan berbeda dalam menyikapi pelemahan rupiah.
Prabowo menilai masyarakat kecil, khususnya di pedesaan, tidak terlalu terdampak langsung oleh fluktuasi dolar AS.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga mengkritik pihak-pihak yang dinilai terus menebar pesimisme terhadap kondisi ekonomi nasional.
Menurutnya, di tengah ketidakpastian global, Indonesia justru berada dalam posisi yang relatif aman, termasuk dalam sektor pangan dan energi.
“Sekarang ada yang selalu… sebentar-sebentar Indonesia akan collapse, akan chaos, rupiah begini, dolar begini… Mau dolar berapa ribu kek, orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok,” ujar Prabowo.
Perbedaan sikap ketiga presiden tersebut menunjukkan bagaimana setiap pemimpin memiliki gaya komunikasi dan pendekatan tersendiri dalam merespons tekanan ekonomi, khususnya saat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami pelemahan.
Baca dan ikuti Media Sosial Tajuk Nasional, KLIK DISINI

