Ia kemudian berjalan menjauh hingga menemukan sebuah bajaj yang dijadikan tempat beristirahat sementara.
Dalam keadaan gemetar dan menahan sakit pada punggungnya, ia menunggu kabar dari anggota keluarga lain yang berpencar saat kebakaran berlangsung.
Menurut pengakuannya, ia baru kembali bertemu dengan anak-anaknya sekitar dua jam kemudian.
Saat itu, rumah yang selama ini menjadi tempat tinggal bersama anak, cucu, hingga cicitnya sudah habis dilalap api.
Kebakaran tersebut tidak hanya menghancurkan bangunan rumah, tetapi juga menghanguskan seluruh harta benda milik keluarga.
Kasur, perabot rumah tangga, hingga barang-barang berharga lainnya tidak sempat diselamatkan karena cepatnya api merambat ke permukiman warga.
Saodah yang baru menjalani operasi punggung juga mengaku mengalami nyeri setelah peristiwa itu.
Petugas medis di lokasi pengungsian telah memberikan pemeriksaan kesehatan untuk memastikan kondisinya tetap terpantau.
Kini, di usia senja, Saodah harus menerima kenyataan pahit kehilangan rumah yang menjadi tempat berteduh keluarganya selama bertahun-tahun.
Baca juga: Kebakaran SPBE Cimuning Bekasi Lukai 12 Orang, Korban Alami Luka Bakar Serius
Dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, ia hanya mampu mengungkapkan kesedihannya atas musibah yang merenggut seluruh isi rumahnya.
