“Kami terus mendorong seluruh balai pelatihan untuk aktif membangun kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri,” jelas Ferry.
Wamenaker juga menekankan bahwa pelatihan vokasi harus bersifat inklusif dan memberi kesempatan setara bagi seluruh lapisan masyarakat.
Program ini terbuka bagi penyandang disabilitas maupun kelompok rentan agar semua memiliki kesempatan meningkatkan kompetensi dan memperluas peluang kerja.
Dengan pendekatan yang terencana, bermitra dengan dunia industri, dan inklusif, pemerintah berharap pelatihan vokasi tidak hanya meningkatkan keterampilan, tetapi juga secara nyata membuka akses kerja bagi masyarakat luas, sekaligus memperkuat daya saing tenaga kerja Indonesia di pasar domestik maupun global.
Pelatihan vokasi yang tepat sasaran diharapkan menjadi salah satu instrumen strategis untuk menurunkan pengangguran dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang siap pakai.
