Kukrit menilai Piala Dunia menjadi contoh bagaimana ajang olahraga internasional mampu menggerakkan roda perekonomian lintas sektor.
Selain perusahaan besar, manfaat ekonomi juga dirasakan pelaku usaha kuliner, hotel, kafe, industri kreatif, penyedia jasa, hingga UMKM yang memanfaatkan tingginya antusiasme masyarakat selama turnamen berlangsung.
Ia menambahkan, dampak ekonomi tersebut berpotensi terus berlanjut melalui efek pengganda.
Meningkatnya permintaan terhadap televisi, proyektor, sistem audio, set-top box, hingga penambahan kapasitas tempat usaha menjadi indikator adanya investasi baru yang dipicu oleh penyelenggaraan Piala Dunia.
Sementara itu, survei Lokadata pada 7–13 Juli 2026 menunjukkan tingginya partisipasi masyarakat dalam kegiatan nonton bareng.
Sebanyak 78,1 persen responden mengaku mengikuti setidaknya satu kegiatan nobar selama turnamen dengan rata-rata pengeluaran sekitar Rp145 ribu per orang.
Sebagian besar belanja tersebut digunakan untuk makanan, minuman, paket data, dan kebutuhan pendukung lainnya, sehingga memberikan tambahan pendapatan bagi pelaku UMKM di berbagai daerah.
