Acara tersebut mempertemukan raja, sultan, budayawan, akademisi, pelaku ekonomi kreatif, dan pemangku kepentingan lainnya untuk menyusun arah pengembangan keraton secara berkelanjutan.
Riefky menilai keraton bukan hanya simbol sejarah, tetapi juga sumber inspirasi yang dapat diolah menjadi beragam produk kreatif.
Cerita rakyat, legenda, hingga catatan sejarah kerajaan dapat dikembangkan menjadi komik, film, animasi, gim, hingga pertunjukan seni modern.
Ia menegaskan kementeriannya siap berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperkuat pelestarian budaya yang sekaligus memberi dampak ekonomi bagi masyarakat.
Ketua panitia kegiatan, Dedi Yusmen, menambahkan ekonomi kreatif masa depan perlu ditopang teknologi dan pengetahuan lokal yang bersumber dari peradaban Nusantara.
Menurut dia, banyak warisan intelektual dari kerajaan dan keraton yang belum tergali optimal.
Selain seminar, kegiatan tersebut juga menghadirkan pameran karya pelukis dari Asosiasi Pelukis Nusantara bertema budaya dan kebangsaan.
Baca juga: Menteri Ekraf Dorong Penguatan IP Lokal Lewat Film Animasi “Garuda di Dadaku”
Pemerintah berharap revitalisasi keraton tidak hanya menjaga identitas bangsa, tetapi juga menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi baru dan pencipta lapangan kerja di masa mendatang.
