Indonesia juga dinilai memiliki keunggulan berupa populasi usia produktif yang besar dan posisi strategis sebagai pintu masuk menuju pasar ASEAN.
“Rusia memiliki gandum, pupuk, energi, ilmu pengetahuan, teknik maju. Indonesia memiliki minyak sawit, perikanan, kopi, karet, tekstil, furnitur, barang konsumsi, dan tenaga kerja muda, serta pintu gerbang menuju 680 juta penduduk ASEAN,” kata Prabowo.
Ia menilai perbedaan tersebut dapat menciptakan pola perdagangan yang memberikan manfaat bagi kedua pihak.
“Kekuatan satu pihak dapat menjawab kebutuhan pihak lainnya,” imbuhnya.
Prabowo menyebut perkembangan hubungan dagang kedua negara telah menunjukkan tren positif. Nilai perdagangan bilateral pada 2025 mendekati 5 miliar dollar AS, meningkat 21,7 persen dibandingkan 2024. Sementara itu, perdagangan pada 2024 tumbuh 33,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski demikian, Prabowo menilai angka tersebut baru menjadi titik awal. Ia mengajak Rusia meningkatkan nilai perdagangan hingga dua kali lipat dalam periode peninjauan pertama Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (Indonesia-EAEU FTA).
“Peningkatan akan didorong oleh perekonomian yang saling melengkapi,” ujarnya.
Menurut Prabowo, perjanjian perdagangan bebas Indonesia-EAEU diperkirakan mulai berlaku pada awal 2027 dan diharapkan menjadi momentum baru bagi peningkatan hubungan ekonomi kedua negara.

