TAJUKNASIONAL.COM Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyiapkan pembangunan jembatan shortcut di kawasan Enang-Enang, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, sebagai solusi permanen untuk memperkuat konektivitas Jalan Nasional yang menghubungkan Kabupaten Bireuen dengan kawasan Dataran Tinggi Gayo.
Baru tersebut dirancang tidak hanya untuk memulihkan akses pascabencana, tetapi juga untuk menghadirkan jaringan transportasi yang lebih aman, tangguh, dan mampu menghadapi risiko bencana pada masa mendatang.
Jembatan shortcut akan dibangun pada trase baru yang dinilai lebih aman.
Kehadirannya diproyeksikan mampu memangkas waktu perjalanan Bireuen–Takengon sekitar 10 menit sehingga meningkatkan kelancaran konektivitas di wilayah tengah Provinsi Aceh.
Selain membangun jalur baru tersebut, pemerintah juga akan memperkuat struktur jembatan eksisting agar tetap dapat dimanfaatkan secara terbatas selama proses pembangunan berlangsung.
Di saat yang sama, pemerintah akan meningkatkan ruas jalan kabupaten di kawasan Werlah, Kecamatan Pintu Rime Gayo, yang saat ini difungsikan sebagai jalur alternatif.
Ruas jalan tersebut akan diperlebar dari sekitar 4 meter menjadi sekitar 6 meter, termasuk pembangunan dua jembatan untuk meningkatkan kapasitas pelayanan lalu lintas.
“Dengan demikian, nantinya masyarakat akan memiliki tiga alternatif akses jalan. Pertama melalui jembatan Enang-Enang yang diperkuat, kedua melalui jalur Werlah yang juga kita tingkatkan, dan ketiga melalui jembatan shortcut baru di kawasan Enang-Enang. Ini akan memberikan pilihan akses yang lebih aman dan andal bagi masyarakat,” kata Menteri PU Dody Hanggodo.
Menteri Dody menjelaskan bahwa hasil kajian teknis menunjukkan lokasi jembatan lama tidak lagi layak dijadikan lokasi pembangunan permanen karena berada di kawasan dengan tingkat kerawanan hidrometeorologi yang cukup tinggi.
Atas dasar pertimbangan tersebut, pemerintah memutuskan untuk mempertahankan jembatan lama melalui penguatan struktur sebagai solusi sementara, sementara konektivitas jangka panjang akan ditopang oleh pembangunan jembatan shortcut.
“Pemerintah tidak lagi membangun permanen di lokasi lama karena secara teknis sudah tidak memungkinkan. Jembatan yang ada diperkuat agar masyarakat tetap aman melintas, sedangkan solusi permanennya adalah pembangunan jembatan shortcut,” ujar Menteri Dody.
Berbeda dengan jembatan sebelumnya, infrastruktur baru ini dirancang pada trase yang lebih efisien sekaligus memiliki tingkat keamanan yang lebih baik dari sisi geologi maupun hidrologi.
Selain memulihkan akses yang terdampak bencana, keberadaan jembatan tersebut diharapkan meningkatkan keandalan jaringan Jalan Nasional yang menghubungkan Kabupaten Bireuen dengan Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues, hingga Aceh Tenggara.
Dari sisi teknis, jembatan shortcut akan dibangun dengan struktur khusus sepanjang sekitar 380 meter dan lebar sekitar 12 meter.
Desain tersebut memungkinkan bentang jembatan melintasi lembah yang luas tanpa memerlukan banyak pilar di tengah alur sungai, sehingga lebih aman terhadap perubahan aliran sungai maupun gerusan akibat banjir.
Konstruksi jembatan akan menggunakan dua pilar utama dengan tinggi masing-masing sekitar 30 meter dan 55 meter, dilengkapi dengan dua abutment setinggi 7 meter serta fondasi bored pile berdiameter 1,5 meter. Infrastruktur tersebut dirancang untuk mampu melayani kendaraan dengan beban maksimum hingga 30 ton, sehingga dapat digunakan oleh kendaraan angkutan barang dan logistik dengan kapasitas yang lebih besar dibandingkan jalur eksisting. Kapasitas tersebut diharapkan mampu mendukung kelancaran distribusi hasil pertanian dan perkebunan dari kawasan Dataran Tinggi Gayo menuju Pelabuhan Krueng Geukueh maupun wilayah pesisir Aceh.
Selain meningkatkan aspek keselamatan, trase baru tersebut juga dirancang untuk membuat perjalanan lebih efisien.
Sebagai shortcut, jalur ini akan memperpendek lintasan sehingga waktu tempuh kendaraan dari arah Bireuen menuju Bener Meriah maupun Aceh Tengah diperkirakan berkurang sekitar 10 menit.
Saat ini Kementerian PU masih menyelesaikan tahap persiapan pembangunan yang meliputi penyusunan basic design serta persiapan proses tender konstruksi.
Pelaksanaan pembangunan ditargetkan berlangsung secara bertahap pada periode 2026–2028 dengan tetap mengutamakan keselamatan konstruksi, mutu bangunan, serta ketahanan terhadap potensi bencana hidrometeorologi. (hen)



' +
'