TAJUKNASIONAL.COM Nama Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab kembali menjadi perhatian publik setelah dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) RI.
Sosok ulama dan cendekiawan Muslim ini dikenal luas melalui pemikiran tentang tafsir Al-Qur’an dan moderasi beragama.
Ia juga merupakan ayah kandung jurnalis dan presenter Najwa Shihab.
Quraish Shihab menjadi salah satu dari 26 tokoh yang dilantik untuk mengisi Wantimpres. Kehadirannya di lembaga tersebut diharapkan dapat memberikan perspektif keagamaan dan kebangsaan, terutama dalam memperkuat kerukunan di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.
Selama puluhan tahun, Quraish Shihab dikenal sebagai intelektual Muslim yang konsisten menyampaikan pesan moderasi beragama. Gagasan-gagasannya dituangkan melalui buku, ceramah, pendidikan, serta berbagai forum dialog lintas agama dan mazhab.
Di luar kiprahnya sebagai ulama, publik juga mengenal Quraish Shihab sebagai ayah dari Najwa Shihab, pendiri Narasi yang dikenal melalui karya jurnalistik dan program wawancara politik.
Ayah Kandung Najwa Shihab
Quraish Shihab merupakan ayah kandung Najwa Shihab, jurnalis yang dikenal luas melalui kiprahnya di dunia media Indonesia. Najwa merupakan salah satu dari lima anak Quraish Shihab dan istrinya, Fatmawaty.
Keduanya dikenal menekuni bidang yang berbeda. Quraish Shihab mengabdikan diri dalam kajian keislaman, pendidikan, dan pemikiran keagamaan, sedangkan Najwa Shihab membangun karier di bidang jurnalistik dan komunikasi publik.
Meski memiliki latar belakang profesi yang berbeda, keduanya sama-sama dikenal melalui kemampuan menyampaikan gagasan dan mengajak masyarakat memahami berbagai persoalan secara kritis.
Nama Quraish Shihab juga kerap dikaitkan dengan pendekatan keagamaan yang terbuka dan mengedepankan dialog. Pemikirannya banyak menjadi rujukan masyarakat, termasuk melalui karya-karya tafsir yang ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami.
Lahir dari Keluarga Ulama di Sulawesi Selatan
Muhammad Quraish Shihab lahir di Rappang, Sulawesi Selatan, pada 16 Februari 1944. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang memberikan perhatian besar terhadap pendidikan agama.
Ayahnya, Prof. Abdurrahman Shihab, merupakan Guru Besar bidang tafsir Al-Qur’an di IAIN Alauddin Makassar dan salah satu pendiri Universitas Muslim Indonesia (UMI) di Makassar.
Lingkungan keluarga tersebut turut membentuk ketertarikan Quraish Shihab terhadap ilmu agama, khususnya tafsir Al-Qur’an. Pendidikan yang dijalaninya sejak muda kemudian menjadi fondasi bagi perjalanan akademik dan pengabdiannya.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di Makassar, ia melanjutkan pendidikan menengah di Malang. Pada masa itu, ia juga menempuh pendidikan agama di Pesantren Ma’had Dar al-Hadits al-Faqihiyah.
Pada 1958, Quraish Shihab berangkat ke Mesir untuk melanjutkan studi di Universitas Al-Azhar, Kairo. Ia diterima setelah mengikuti ujian pada tingkat Tsanawiyah Al-Azhar.
Perjalanan Akademik di Universitas Al-Azhar
Quraish Shihab melanjutkan pendidikan di Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar dengan mengambil bidang tafsir dan hadis. Ia meraih gelar L.C. atau sarjana muda pada 1967, kemudian memperoleh gelar magister (MA) pada 1969 di fakultas yang sama.
Setelah menyelesaikan pendidikan magister, ia kembali ke Makassar dan mengabdikan diri sebagai pendidik, peneliti, serta pemimpin lembaga pendidikan tinggi Islam.
Pada masa tersebut, ia pernah menjabat sebagai Wakil Rektor bidang Akademik dan Kemahasiswaan IAIN Alauddin Ujung Pandang. Ia juga dipercaya menjadi Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertais) Wilayah VII Indonesia Timur.
Selain menjalankan tugas akademik, Quraish Shihab turut berperan dalam kegiatan pembinaan mental di lingkungan kepolisian wilayah Indonesia Timur. Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Bidang Dakwah Ikatan Masjid dan Mushola Indonesia Makassar (IMMIM).
Pada 1980, Quraish Shihab kembali ke Mesir untuk menyelesaikan disertasi doktoral dalam bidang ilmu-ilmu Al-Qur’an. Dua tahun kemudian, ia meraih gelar Ph.D. dalam bidang tafsir dengan predikat summa cum laude dan penghargaan tingkat pertama.
Pernah Menjadi Rektor IAIN Jakarta
Setelah kembali ke Indonesia, Quraish Shihab melanjutkan pengabdiannya di dunia pendidikan. Ia sempat bertugas di Makassar sebelum dipindahkan ke Jakarta untuk menjadi dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Pada 1992, ia dipercaya menjadi rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan menjabat selama dua periode. Kepemimpinannya berlangsung di tengah upaya pengembangan pendidikan tinggi Islam di Indonesia.
Dalam masa kepemimpinannya, Quraish Shihab juga mendapat kesempatan mengikuti program pelatihan manajemen strategis bagi pejabat pemerintah tingkat atas di The Institute for Training and Development, Amherst, Massachusetts, Amerika Serikat.
Pengalaman akademik dan kepemimpinan tersebut memperkuat kiprahnya sebagai salah satu cendekiawan Muslim yang berpengaruh di Indonesia.
