TAJUKNASIONAL.COM Politikus senior Partai Amanat Nasional atau PAN, Drajad Wibowo, menilai kekuatan politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi dalam kontestasi Pilpres 2029 belum dapat diukur saat ini.
Menurutnya, pengaruh Jokowi baru akan terlihat lebih jelas menjelang masa pendaftaran pasangan calon presiden dan wakil presiden.
Drajad menyebut faktor waktu menjadi penentu penting untuk membaca seberapa besar pengaruh Jokowi dalam peta politik nasional. Ia menilai posisi Jokowi dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sekitar enam bulan sebelum pendaftaran pasangan calon akan menjadi indikator utama.
“Ya itu sangat tergantung pada bagaimana nanti sekitar enam bulan menjelang pendaftaran, itu posisi Pak Jokowi dan Mas Gibran. Sangat tergantung,” ujar Drajad dalam program siniar Gaspol Kompas.com, Selasa, 28 April 2026.
Pernyataan itu disampaikan Drajad saat merespons pembahasan mengenai dorongan Jokowi agar Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka melanjutkan pemerintahan dua periode. Isu tersebut membuat peran politik Jokowi kembali menjadi perhatian menjelang 2029.
Baca Juga: Profil Mayor Inf Windra Sanur, Pengawal Jokowi yang Kini Jadi Kasdim Tigaraksa
Menurut Drajad, salah satu faktor yang akan menentukan kekuatan Jokowi adalah kemampuannya mempertahankan dukungan pemilih militan. Jika Jokowi tetap memiliki tempat kuat di mata para pendukung setianya, maka pengaruh politiknya masih bisa menjadi faktor besar dalam kontestasi mendatang.
“Kalau beliau ternyata berhasil mempertahankan standing beliau di hadapan pemilih-pemilih militan beliau, ya peluangnya sangat besar,” kata Drajad.
Drajad kemudian membandingkan posisi Jokowi dengan dua mantan presiden sebelumnya, yakni Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY. Menurutnya, Megawati memiliki basis pemilih yang solid dan ideologis melalui PDI Perjuangan. Sementara SBY pernah memiliki dukungan elektoral tinggi, tetapi pengaruhnya disebut mengalami penurunan seiring waktu.
Berbeda dengan Megawati dan SBY, Jokowi tidak memiliki partai politik sendiri. Kondisi itu membuat kekuatan politiknya belum terlihat secara formal. Meski begitu, Drajad menilai Jokowi tetap memiliki pengaruh terhadap sejumlah partai.
“Nah Pak Jokowi karena beliau tidak punya partai, belum terlihat. Tapi nanti pada saatnya akan terlihat, akan muncul kira-kira kita akan bisa menghitung kekuatan politik Pak Jokowi sekarang ini bagaimana,” ucap dia.
Drajad juga menilai posisi formal Jokowi di partai politik bukan satu-satunya ukuran pengaruh. Ia menyebut Jokowi tetap bisa memberi warna dalam dinamika partai dan koalisi, meski tidak bergabung secara resmi dengan partai tertentu.
“Saya melihat sih Pak Jokowi masih punya pengaruh terhadap beberapa partai tertentu,” kata dia.
Bahkan, Drajad mengibaratkan pengaruh Jokowi seperti pesepak bola top dunia yang selalu membawa warna berbeda di mana pun berada.
“Ya itulah seperti Ronaldo sama Lionel Messi. Jadi di mana dia bermain, ya akan ada warnanya yang berbeda,” ujar Drajad.
Baca Juga: Profil Mayor Inf Windra Sanur, Pengawal Jokowi yang Kini Jadi Kasdim Tigaraksa
Lebih lanjut, Drajad mengingatkan bahwa Pilpres 2029 sebenarnya sudah semakin dekat bagi para aktor politik. Menurutnya, partai, calon legislatif, hingga figur yang memiliki ambisi maju sebagai capres atau cawapres harus mulai bekerja sejak sekarang.
