TAJUKNASIONAL.COM Kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026, kembali memunculkan pertanyaan besar soal keselamatan transportasi perkeretaapian di Indonesia.
Meski kereta api kerap dipandang sebagai moda transportasi massal yang aman, risiko kecelakaan tetap bisa terjadi apabila sistem pengamanan, sarana, prasarana, dan faktor manusia tidak berjalan optimal.
Insiden Bekasi Timur melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL commuter line yang sedang berhenti. Sejumlah laporan menyebut kecelakaan itu didahului gangguan lain di sekitar perlintasan, termasuk insiden yang melibatkan taksi Green SM.
Namun, penyebab pasti tetap menunggu hasil investigasi resmi dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi atau KNKT. KAI juga menyatakan kronologi lengkap kecelakaan diserahkan kepada KNKT untuk dipastikan.
Baca Juga: Profil Arifah Choiri Fauzi, Menteri PPPA yang Usul Gerbong Perempuan KRL Dipindah
Secara umum, ada empat faktor utama yang kerap menjadi penyebab kecelakaan kereta api di Indonesia.
1. Faktor Manusia
Faktor manusia masih menjadi salah satu aspek penting dalam keselamatan perjalanan kereta. Risiko dapat muncul dari kesalahan operator, masinis, petugas lapangan, maupun pihak lain yang terlibat dalam pengaturan perjalanan.
Kesalahan tersebut bisa berupa pelanggaran prosedur, kekeliruan membaca sinyal, melampaui batas kecepatan, hingga kesalahan dalam pengoperasian wesel. Dalam kondisi tertentu, kelelahan akibat jadwal kerja yang padat juga dapat menurunkan konsentrasi petugas saat menjalankan tugas.
2. Kegagalan Sarana Kereta
Penyebab lain yang perlu diperhatikan adalah kondisi teknis sarana kereta. Gangguan pada sistem pengereman, roda, sambungan, hingga bantalan poros dapat meningkatkan risiko kecelakaan apabila tidak terdeteksi sejak awal.
Pemeliharaan berkala menjadi hal penting untuk memastikan rangkaian tetap laik jalan. Penggunaan komponen yang tidak sesuai standar teknis juga bisa memperbesar potensi gangguan operasional.
3. Masalah Prasarana Perkeretaapian
Kondisi jalur, rel, jembatan, sinyal, dan perangkat pendukung lain juga berpengaruh besar terhadap keselamatan. Rel yang aus, retak, melengkung, atau berada di area dengan beban tinggi perlu mendapat pengawasan ketat.
Masalah prasarana juga mencakup perlintasan sebidang. Kajian keselamatan menyebut kecelakaan di perlintasan sebidang dapat dipicu kelalaian pengguna jalan, kurangnya fasilitas keselamatan, kerusakan fasilitas, hingga ketidaksesuaian fasilitas dengan aturan teknis.
4. Faktor Eksternal dan Lingkungan
Faktor di luar sistem perkeretaapian juga kerap menjadi pemicu kecelakaan. Contohnya kendaraan yang menerobos atau mogok di perlintasan, banjir, tanah longsor, tanah amblas, hingga benda asing yang tiba-tiba masuk ke jalur rel.
Dalam konteks insiden Bekasi Timur, aspek eksternal ikut menjadi perhatian karena kecelakaan disebut berkaitan dengan rangkaian peristiwa di sekitar perlintasan.
Karena itu, evaluasi tidak cukup hanya dilakukan pada satu titik, tetapi harus menyeluruh dari hulu ke hilir. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi juga menyebut insiden tersebut sebagai pelajaran penting untuk meningkatkan keselamatan perkeretaapian.
