Masih Relevankah untuk Rumah Modern?
Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta, Teguh Aryanto, mengatakan bahwa hampir seluruh rumah di Nusantara pada masa lalu menggunakan atap berbahan ijuk maupun rumbia sebelum material modern berkembang seperti saat ini.
“Pada masa dahulu, seluruh rumah di Nusantara memakai atap berbahan dasar ijuk atau rumbia karena berbahan dasar alami,” katanya.
Menurut Teguh, secara teknis kedua material tersebut masih memungkinkan digunakan hingga sekarang. Namun, penerapannya menghadapi sejumlah tantangan karena industri pembuatannya semakin terbatas dan masyarakat kini lebih memilih material modern yang lebih praktis.
Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi konstruksi telah menghadirkan berbagai pilihan atap dengan daya tahan yang lebih baik serta perawatan yang lebih mudah.
“Banyak kelemahan dari bahan tersebut (ijuk dan rumbia), seperti mudah terbakar, dan rentan akan kebocoran,” ujarnya.
Meski demikian, penggunaan atap ijuk dan rumbia tetap memiliki nilai penting, terutama dalam pelestarian arsitektur tradisional serta penerapan konsep bangunan yang lebih ramah lingkungan. Dengan perawatan yang tepat dan inovasi konstruksi modern, material alami tersebut masih berpeluang dimanfaatkan pada bangunan tertentu, khususnya rumah adat, kawasan wisata, hingga hunian berkonsep tropis dan berkelanjutan.
Baca dan Ikuti Media Sosial Tajuk Nasional, KLIK DISINI
