Aksi tersebut menandai peran krusialnya dalam menjaga stabilitas negara di masa genting.
Setelah peristiwa itu, karier militernya berlanjut sebagai Panglima Kodam II/Bukit Barisan dan Kodam XVII/Cendrawasih.
Ia juga dikenal sebagai pembangun karakter RPKAD menjadi pasukan modern, disiplin, dan berkemampuan tinggi — fondasi yang kemudian menjadikan Kopassus sebagai salah satu pasukan elite terbaik di dunia.
Sarwo Edhie wafat pada 9 November 1989 dan dimakamkan di kampung halamannya di Purworejo dengan upacara militer.
Hingga kini, namanya diabadikan di berbagai tempat, termasuk Gedung Sarwo Edhie Wibowo di kompleks Kopassus Cijantung dan sejumlah jalan di Jawa Tengah.
Baca juga:Â Profil Singkat 10 Tokoh yang Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional Tahun 2025 oleh Presiden Prabowo
Penganugerahan ini menjadi bentuk pengakuan negara atas jasa besar Sarwo Edhie dalam mempertahankan keutuhan Republik Indonesia dan membangun kekuatan TNI modern.


