TAJUKNASIONAL.COM Mantan pemain tim nasional Belgia, Radja Nainggolan, mengungkapkan penyesalannya karena tidak pernah membela Timnas Indonesia saat masih aktif bermain di level internasional.
Ia menilai dirinya memiliki peluang untuk menjalani karier internasional bersama skuad Garuda jika mengambil keputusan berbeda pada masa lalu.
Dalam wawancara dengan media Belanda yang dikutip dari Nieuwsblad, Radja mengaku pandangannya terhadap sepak bola Indonesia berubah setelah merasakan pengalaman bermain di Tanah Air bersama Bhayangkara FC.
Pemain yang pernah memperkuat AS Roma tersebut pertama kali datang ke Indonesia pada 2013.
Saat itu, ia masih berada dalam periode penting kariernya dan belum mempertimbangkan kemungkinan memperkuat Timnas Indonesia.
Menurut Radja, sepak bola Indonesia ketika itu belum menarik perhatiannya.
Namun, pengalamannya saat kembali ke Indonesia untuk membela Bhayangkara FC membuatnya melihat sepak bola dan kehidupan masyarakat Indonesia dari sudut pandang berbeda.
“Dulu saya tidak memikirkan hal itu, tetapi sekarang saya berusia 38 tahun dan melihat berbagai hal secara berbeda,” kata Radja, seperti dikutip dari Nieuwsblad.
Ia juga menyinggung perjalanan kariernya bersama tim nasional Belgia yang berakhir ketika Roberto Martínez menangani tim tersebut.
Radja menilai dirinya berpotensi memiliki karier internasional yang panjang jika memilih membela Indonesia.
“Saya bisa saja memiliki karier selama 15 tahun sebagai pemain internasional Indonesia,” ujarnya.
Radja Nainggolan Terpukau Fanatisme Suporter Indonesia
Salah satu hal yang membuat Radja terkesan adalah besarnya antusiasme masyarakat Indonesia terhadap sepak bola. Ia menilai pertandingan Timnas Indonesia mampu menarik puluhan ribu penonton, termasuk saat menghadapi Vietnam atau Irak.
Menurut Radja, kehadiran sekitar 70 ribu penonton dalam pertandingan melawan negara-negara tersebut menunjukkan besarnya dukungan suporter terhadap tim nasional.
“Ada 70 ribu orang di sana untuk pertandingan melawan Vietnam atau Irak. Begitulah fanatiknya mereka. Uang juga bertebaran di sana,” kata Radja.
Ia turut menyoroti dukungan komersial yang diterima sejumlah pemain sepak bola Indonesia.
Radja menyebut nama-nama merek mewah seperti Louis Vuitton, Hublot, dan Rolex sebagai contoh sponsor yang menurutnya terlibat dalam dunia sepak bola di Indonesia.
Ia kemudian membandingkan kondisi tersebut dengan situasi pemain muda Indonesia yang berkarier di Belanda. Radja menyinggung Ivar Jenner yang bermain untuk Jong Utrecht, tim muda yang berkompetisi di Belanda.
Perbandingan itu memperlihatkan kesan Radja terhadap besarnya perhatian dan potensi komersial sepak bola Indonesia.
Kehidupan Sosial Indonesia Juga Membekas
Selain sepak bola, Radja mengaku terkesan dengan kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Ia menilai interaksi antara warga dari latar belakang ekonomi berbeda terasa lebih terbuka dalam keseharian yang ia amati.
Radja menggambarkan suasana ketika orang-orang duduk dan makan di sekitar gedung-gedung tinggi, sementara pedagang kecil menjajakan makanan di lokasi yang sama.
Menurutnya, pengalaman tersebut memberikan kesan tersendiri dibandingkan dengan kehidupan yang ia temui di Eropa.
Ia bahkan mengaku terbiasa makan di warung-warung lokal selama berada di Indonesia. Keramahan masyarakat menjadi salah satu pengalaman yang membuatnya semakin menghargai negara ini.
Peluang Radja Membela Timnas Indonesia Sudah Tertutup
Pengalaman tersebut membuat Radja memandang keputusannya pada masa lalu secara berbeda. Jika dapat mengulang perjalanan kariernya, ia mengaku tidak akan ragu mempertimbangkan kesempatan membela Timnas Indonesia.
