Ia menilai pernyataan mengenai “patahan sejarah” dapat dibaca sebagai indikasi adanya kepentingan politik tertentu di balik wacana perubahan kepemimpinan.
“Akhirnya terbuka dan terkuak bahwa Jokowi tidak rela menyerahkan kekuasaan kepada siapa pun, termasuk ke Pak Prabowo,” ujar Said Didu.
Pandangan serupa disampaikan Direktur Gerakan Perubahan Muslim Arbi. Ia menyoroti sikap Jokowi ketika pernyataan tersebut disampaikan dan menilai diamnya mantan presiden itu dapat ditafsirkan secara politis.
Politikus Ferdinand Hutahaean juga mempertanyakan respons Jokowi terhadap wacana tersebut.
Menurut dia, terdapat perbedaan sikap ketika isu politik menyangkut posisi Gibran dibandingkan dengan ketika muncul narasi mengenai kemungkinan perubahan kepemimpinan nasional.
Di sisi lain, Projo memberikan penjelasan bahwa pernyataan Budi Arie tidak dimaksudkan sebagai seruan untuk mengganti pemerintahan.
Organisasi relawan tersebut menyebut ucapan itu sebagai pembacaan terhadap dinamika sosial dan ekonomi, bukan instruksi politik untuk melakukan pemakzulan.
Baca juga: Pernyataan Budi Arie soal Pemilu Dipercepat Tuai Sorotan, Ini Penjelasannya
Meski demikian, pernyataan Budi Arie telah membuka kembali perdebatan mengenai arah politik nasional menjelang Pemilu 2029, termasuk spekulasi mengenai posisi Gibran dan keberlanjutan pemerintahan Prabowo.
