Peringatan untuk Nanik S. Deyang: Jangan Diulangi!

Oleh Ilham Mendrofa (Penulis)

Presiden kecewa. Dua kata yang terdengar sederhana, namun sarat makna. Ketika Prabowo Subianto membuka suara mengenai kasus yang menyeret pimpinan Badan Gizi Nasional sebelumnya, ia tidak sedang berbicara tentang Dadan. Ia sedang berbicara tentang seseorang yang pernah ia percaya dan sayangi.

Dalam politik, pengkhianatan paling menyakitkan jarang datang dari lawan. Ia lahir dari lingkar dalam, dari mereka yang diberi amanah, dari mereka yang disayangi dan dipercaya. Maka pergantian kepemimpinan di Badan Gizi Nasional tak bisa dibaca sekadar rotasi birokrasi. Di baliknya ada kegelisahan yang lebih dalam: tentang sebuah program yang menjadi mahakarya politik Prabowo, jantung keyakinan Presiden—Makan Bergizi Gratis (MBG). MBG bukan sekadar program makan siang. Ia adalah janji politik, proyek pembangunan manusia, dan taruhan sejarah pemerintahan Prabowo. Jika berhasil, ia akan dikenang sebagai investasi terbesar negara terhadap kualitas generasi masa depan. Jika gagal, yang tercatat bukan hanya kerugian anggaran, melainkan hilangnya kepercayaan publik.

Saya pun kecewa. Saya adalah pendukung program ini. Saya pernah menulis, membuat video narasi, dan berdebat dengan banyak kawan demi meyakinkan manfaat MBG: potensinya membangkitkan ekonomi desa, ekonomi rumah tangga, dan sektor pertanian pangan. Namun rompi merah yang dikenakan Dadan, Sony, dan Loedwick—meruntuhkan keyakinan itu.

Baca juga: Menteri Ekraf Ungkap Dampak MBG, Ribuan Dapur Buka Peluang bagi Pelaku Usaha Lokal

Kini tongkat estafet berada di tangan Nanik S. Deyang.

Saya tidak mengenal beliau secara pribadi. Tapi saya mengenali profesi yang membentuknya. Nanik adalah mantan wartawan. Profesi yang mengajarkan seseorang untuk curiga pada laporan yang terlalu sempurna, mempertanyakan angka yang terlalu indah, dan mencari cerita yang tak tertulis dalam siaran pers. Naluri itulah yang sangat dibutuhkan hari ini. Sebab yang diwarisinya bukan sekadar lembaga, melainkan tumpukan persoalan yang selama ini disembunyikan oleh optimisme yang berlebihan.

- Advertisement -
Berita Terbaru
- Advertisement -
Berita Lainnya
Rekomendasi Untuk Anda
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini