TAJUKNASIONAL.COM Presiden ke-7 RI Joko Widodo kembali mendapat undangan untuk menghadiri agenda masyarakat adat Dayak.
Kali ini, undangan datang dari Pemimpin Besar Pasukan Merah Tariu Borneu Bangkule Rajakng (TBBR), Panglima Jilah, saat bertemu Jokowi di kediamannya di Sumber, Banjarsari, Solo, Senin (10/8/2026).
Panglima Jilah mengundang Jokowi menghadiri acara adat Bahau Bide Bahana Bangkule Rajakng yang dijadwalkan berlangsung pada 22 Agustus mendatang di Kalimantan.
Acara tersebut disebut sebagai pertemuan besar masyarakat adat dengan jumlah peserta mencapai lebih dari 20.000 orang.
“Sudah ada agenda kita di tanggal 22 Agustus. Bahau Bide Bahana, Bangkule Rajakng. Itu pertemuan besar, 20.000 lebih pesertanya,” ujar Panglima Jilah.
Baca Juga:Â PDIP Minta Prabowo Waspadai Manuver Jokowi Usai Polemik Gelar Adat di NTT
Menurut Panglima Jilah, kehadiran Jokowi dalam kegiatan tersebut bersifat khusus dan tidak berkaitan dengan agenda kunjungan Jokowi ke sejumlah daerah.
“Bukan (agenda keliling), khusus. Nggak ada sangkut pautnya dengan agenda Bapak keliling. Ini memang khusus acara adat saja,” tegasnya.
Alasan Jokowi Diundang
Panglima Jilah mengatakan undangan tersebut diberikan karena adanya kedekatan dan kecintaan masyarakat Dayak terhadap Jokowi. Ia menilai, selama menjabat sebagai presiden, Jokowi memberikan perhatian terhadap pembangunan di wilayah Kalimantan.
“Kecintaan masyarakat Dayak dengan beliau. Selama beliau menjadi Presiden, beliau banyak membangun kita juga di sana. Itu saja,” tuturnya.
Belum ada penjelasan mengenai kemungkinan agenda lain dalam pertemuan tersebut. Panglima Jilah juga tidak merinci ketika ditanya mengenai kemungkinan pemberian gelar adat kepada Jokowi.
Baca Juga:Â Profil PT GNI PHK 1.900 Karyawan, Smelter Nikel Proyek Strategis Nasional Era Jokowi Kembali Disorot
Muncul Pertanyaan soal Safari Politik
Meski disebut sebagai agenda adat, pertemuan tersebut tetap menarik perhatian karena berlangsung ketika aktivitas Jokowi di berbagai daerah semakin sering menjadi sorotan.
Kehadiran mantan presiden dalam sejumlah kegiatan masyarakat dapat memiliki dimensi sosial dan budaya. Namun, secara politik, pertemuan dengan kelompok masyarakat dalam jumlah besar juga berpotensi membangun kembali jaringan dan popularitas seorang tokoh.
Karena itu, muncul pertanyaan apakah rangkaian kunjungan Jokowi ke berbagai daerah dapat dibaca sebagai safari politik, terutama jika kegiatan tersebut melibatkan tokoh masyarakat, organisasi, komunitas, atau kelompok dengan basis massa yang besar.
Namun, sampai saat ini belum terdapat pernyataan atau bukti yang menunjukkan bahwa undangan Panglima Jilah tersebut merupakan bagian dari agenda politik Jokowi.

