TAJUKNASIONAL.COM Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan bahwa pembangunan kawasan menjadi arah baru dalam transformasi program transmigrasi di Indonesia.
Dalam pendekatan tersebut, mahasiswa diharapkan mengambil peran strategis melalui riset lapangan untuk memetakan potensi daerah sebagai landasan penyusunan kebijakan pembangunan kawasan yang lebih tepat sasaran.
Pernyataan tersebut disampaikan Menko AHY saat melepas Tim Ekspedisi Patriot 2026 bersama Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara di Jakarta, Rabu (29/7/2026).
Menurut Menko AHY, paradigma transmigrasi saat ini telah bergeser.
Jika sebelumnya lebih berfokus pada perpindahan penduduk dari Pulau Jawa ke wilayah lain, kini orientasinya diarahkan pada pembangunan kawasan yang mampu menarik investasi, melahirkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
“Yang dulu paradigmanya adalah memindahkan penduduk keluar Jawa. Kini paradigmanya menjadi bagaimana membangun kawasan-kawasan tersebut sehingga menjadi daya tarik bagi perpindahan penduduk, investasi, dan juga pembangunan atau pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Menko AHY.
Untuk mewujudkan transformasi tersebut, diperlukan kebijakan yang didukung data dan kondisi riil di lapangan.
Karena itu, Tim Ekspedisi Patriot dipandang memiliki peran penting dalam mengidentifikasi potensi sekaligus berbagai tantangan yang dihadapi kawasan transmigrasi secara langsung.
Di hadapan hampir 1.500 mahasiswa, peneliti, dan sivitas akademika dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, Menko AHY menyampaikan apresiasi atas semangat generasi muda yang bersedia terjun langsung ke kawasan transmigrasi guna menghasilkan rekomendasi berbasis hasil penelitian.
“Mereka akan langsung berada di lapangan untuk memetakan potensi wilayah. Ada daerah yang unggul di sektor pertanian, perkebunan, pariwisata, ekonomi kreatif, industri, hingga hilirisasi. Semua potensi itu harus dianalisis secara komprehensif agar dapat menjadi dasar pengembangan kawasan ke depan,” jelasnya.
Menko AHY juga mengungkapkan bahwa masih terdapat sejumlah kawasan transmigrasi yang belum berkembang secara optimal.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh keterbatasan infrastruktur dasar maupun konektivitas yang pada akhirnya mengurangi daya tarik kawasan bagi masyarakat maupun aktivitas ekonomi.
“Sebagian kawasan transmigrasi sudah berhasil, tetapi sebagian lainnya masih menghadapi tantangan, misalnya karena keterbatasan infrastruktur dan konektivitas yang menyebabkan kawasan tersebut ditinggalkan. Karena itu, pembangunan infrastruktur harus berjalan beriringan dengan pengembangan potensi ekonomi wilayah agar kawasan benar-benar hidup dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat,” tegasnya.
Lebih lanjut, Menko AHY menilai hasil riset yang dihasilkan para peserta Ekspedisi Patriot akan menjadi referensi empiris yang melengkapi data pemerintah dalam merumuskan kebijakan pembangunan kawasan transmigrasi secara lebih tepat sasaran.
“Ketika masukan akademis bertemu dengan kebijakan strategis pemerintah, kita berharap lahir kebijakan yang benar-benar efektif, implementatif, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tutup Menko AHY.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menekankan bahwa keberhasilan pembangunan kawasan transmigrasi tidak dapat dilepaskan dari kualitas sumber daya manusia serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Tidak ada pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan tanpa hadirnya ilmu pengetahuan dan teknologi di kawasan tersebut,” ujar Menteri Iftitah.
Ia juga mengajak seluruh peserta Tim Ekspedisi Patriot untuk memaksimalkan masa penugasan selama empat bulan dengan menghadirkan inovasi yang mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di kawasan transmigrasi.
“Untuk pertumbuhan ekonomi diperlukan SDM unggul dan banjirnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang berasal dari perguruan tinggi. Berikan upaya terbaik selama empat bulan di kawasan, berikan dampak dan manfaat, serta bangun dan ciptakan karya di kawasan transmigrasi,” pungkasnya.
Tim Ekspedisi Patriot 2026 diikuti oleh 1.476 peserta yang tergabung dalam 246 tim.
Selama empat bulan, mereka akan bertugas di 53 kawasan transmigrasi yang terdiri atas 41 Kawasan Transmigrasi Prioritas Nasional, dua Kawasan Prioritas Kementerian Transmigrasi, serta 10 kawasan transmigrasi di Papua.
Seluruh peserta merupakan hasil seleksi dari 10.359 pendaftar yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.
Program ini merupakan kelanjutan dari Tim Ekspedisi Patriot 2025 yang difokuskan untuk menindaklanjuti hasil riset sebelumnya sekaligus mengembangkan produk unggulan berbasis ilmu pengetahuan, inovasi, dan potensi lokal di kawasan transmigrasi.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, serta jajaran Kemenko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.
Menko AHY didampingi Deputi Bidang Koordinasi Pemerataan Pembangunan Wilayah, Agraria, dan Tata Ruang Nazib Faizal, Staf Khusus Bidang Manajemen dan Kerja Sama Antarlembaga Agust Jovan Latuconsina, Staf Khusus Bidang Hukum dan Regulasi Sigit Raditya, serta Staf Khusus Bidang Kerja Sama Lembaga Non-Pemerintah dan Kerja Sama Luar Negeri Merry Riana. (hen)
