TAJUKNASIONAL.COM Presiden Prabowo Subianto memanggil sejumlah pejabat negara bidang ekonomi era Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono ke Istana Kepresidenan Jakarta pada Jumat, 22 Mei 2026.
Pertemuan tersebut digelar untuk mendengar pengalaman para tokoh ekonomi yang pernah menghadapi tekanan besar pada masa lalu.
Sejumlah nama yang hadir di antaranya mantan Gubernur Bank Indonesia periode 2003-2008, Burhanuddin Abdullah; mantan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas periode 2005-2009, Paskah Suzetta; serta mantan Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional periode 2010-2014, Lukita Dinarsyah Tuwo.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, para tokoh tersebut menyampaikan pengalaman mereka ketika menghadapi krisis ekonomi global, terutama pada periode 2008.
Baca Juga: Presiden Prabowo Mengaku Pilu Dengar Kritik Keras PDIP, tapi Tetap Hargai Oposisi
Menurut Airlangga, sebagian besar pejabat yang dipanggil memiliki pengalaman panjang dalam mengelola ekonomi nasional pada periode 2004 hingga 2014.
“Dalam pertemuan tadi disampaikan beberapa hal yang menjadi pengalaman mereka saat menghadapi krisis di tahun 2008. Kebetulan mereka rata-rata di periodenya antara 2004 sampai 2014,” kata Airlangga seusai pertemuan di Istana Kepresidenan.
Airlangga menjelaskan, para mantan pejabat itu juga memberi catatan mengenai tekanan ekonomi global yang pernah terjadi, mulai dari lonjakan harga minyak, tekanan inflasi, hingga perubahan nilai tukar.
Pengalaman tersebut dinilai penting sebagai bahan pembelajaran bagi pemerintah saat ini.
Ia menyebut, pada masa lalu Indonesia pernah menghadapi tekanan inflasi yang tinggi. Selain itu, kenaikan harga minyak dunia juga sempat memberi dampak besar terhadap ekonomi domestik.
“Mereka mengatakan kalau di masa lalu, inflasi kita di periode sekitar 17 persen dan juga terjadi perubahan nilai kurs akibat krisis minyak. Di tahun 2005 ada krisis minyak di mana harga minyak bisa naik sampai US$140 per barel,” ujar Airlangga.
Meski demikian, Airlangga menilai kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini lebih kuat dibanding sejumlah episode krisis sebelumnya.
Ia menyebut depresiasi rupiah saat ini masih lebih rendah dibandingkan tekanan pada masa krisis terdahulu.
Baca Juga: Oleh-oleh Presiden Prabowo untuk Warga Miangas: Dukungan Nyata bagi Pulau Terluar Indonesia
“Fundamental lebih kuat. Dan depresiasi rupiah itu sekitar 5 persen, jadi jauh lebih rendah dari berbagai kasus sebelumnya,” tutur Airlangga.
Dari pertemuan itu, pemerintah disebut ingin mempelajari langkah antisipatif untuk menghadapi kemungkinan tekanan ekonomi ke depan.
Presiden Prabowo juga meminta jajaran Kabinet Merah Putih, termasuk Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, untuk terus memantau regulasi yang dapat menjaga stabilitas sektor keuangan.
Secara terpisah, Burhanuddin Abdullah mengatakan pertemuan dengan Prabowo membahas pengalaman masa lalu sebagai pelajaran menghadapi kondisi ekonomi saat ini.
