TAJUKNASIONAL.COM Program transmigrasi yang selama ini identik dengan pemerataan penduduk dan pembukaan lahan baru ternyata masih menyisakan beragam persoalan mendasar.
Temuan itu mengemuka dalam Ekspedisi Patriot 2025 yang digelar Institut Teknologi Bandung (ITB).
Sebanyak 57 tim dosen diterjunkan ke 21 provinsi untuk memetakan kondisi kawasan transmigrasi sekaligus merumuskan rekomendasi pengembangannya.
Ketua Tim Ekspedisi Patriot ITB, Prof. Sri Maryati, menegaskan penyelesaian konflik sosial dan kepastian hak atas lahan harus menjadi prioritas sebelum berbicara soal penguatan ekonomi.
Menurut Sri, persoalan status lahan kerap menjadi hambatan utama bagi warga transmigran.
Konflik, baik skala kecil maupun besar, dinilai perlu dituntaskan agar pengembangan kawasan tidak berjalan di atas ketidakpastian hukum.
Hasil pemetaan juga mematahkan anggapan lama bahwa kawasan transmigrasi semata-mata bertumpu pada sektor pertanian.
Sri menyebut tidak semua lahan cocok untuk ditanami, sehingga potensi lain seperti pariwisata dan hasil laut perlu dikembangkan sesuai kondisi riil di lapangan.
Namun, sebagian besar potensi tersebut masih berskala kecil dan lokal.
