Profil Jumhur Hidayat, Aktivis Buruh yang Dilantik Jadi Menteri Lingkungan Hidup

TAJUKNASIONAL.COM Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Mohammad Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup.

Pelantikan berlangsung di Istana Negara, Jakarta, Senin, 27 April 2026. Jumhur menggantikan posisi yang sebelumnya ditempati Hanif Faisol Nurofiq.

Dalam prosesi pelantikan, Jumhur mengucapkan sumpah jabatan di hadapan Presiden Prabowo.

Ia menyatakan kesetiaan kepada UUD 1945 dan berjanji menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab.

“Demi Allah saya bersumpah, bahwa saya akan setia kepada UUD RI Tahun 1945,” kata Jumhur saat mengucapkan sumpah jabatan di Istana Negara, Senin, 27 April 2026.

Baca Juga: Reshuffle Kabinet Terbaru, Presiden Prabowo Lantik Enam Pejabat Baru di Istana Negara

Penunjukan Jumhur menjadi perhatian karena ia dikenal sebagai aktivis pergerakan dan tokoh buruh. Pria kelahiran Bandung, 18 Februari 1968, itu memiliki rekam jejak panjang dalam dunia aktivisme sejak masa Orde Baru.

Berikut profil singkat Jumhur Hidayat:

  • Nama lengkap: Mohammad Jumhur Hidayat
  • Tempat, tanggal lahir: Bandung, 18 Februari 1968
  • Latar belakang: Aktivis pergerakan dan tokoh buruh
  • Almamater: Institut Teknologi Bandung, Universitas Nasional, dan Universitas Indonesia
  • Jabatan baru: Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup
  • Organisasi: Ketua Umum Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia atau KSPSI

Jejak aktivisme Jumhur mulai menonjol saat ia menempuh pendidikan di Institut Teknologi Bandung.

Pada masa mahasiswa, ia aktif dalam berbagai aksi sosial dan gerakan pembelaan masyarakat.

Baca Juga: Penguatan Alumni Fakultas Syariah UIN Mataram Menjadi Advokat adalah Penguatan Program Astacita Presiden Prabowo 

Beberapa isu yang pernah ia kawal berkaitan dengan hak petani, penggusuran lahan, dan persoalan rakyat di sejumlah daerah.

Salah satu peristiwa penting dalam perjalanan aktivismenya terjadi pada 5 Agustus 1989. Saat itu, Jumhur ikut dalam aksi penolakan kedatangan Menteri Dalam Negeri Rudini ke kampus ITB.

Aksi tersebut membuatnya ditangkap bersama sejumlah aktivis mahasiswa lain. Ia kemudian menjalani masa tahanan hingga akhirnya bebas pada 25 Februari 1992.

Setelah bebas, Jumhur tetap aktif di dunia pergerakan. Pada 1993, ia bergabung dengan Center for Information and Development Studies atau CIDES.

- Advertisement -
Berita Terbaru
- Advertisement -
Berita Lainnya
Rekomendasi Untuk Anda
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini