Pratikno memaparkan dua opsi penguatan. Pertama, peningkatan internal Basarnas melalui penambahan alutsar seperti helikopter, kapal, pesawat, serta personel dan anggaran. Namun opsi ini membutuhkan biaya besar dan waktu panjang.
Alternatif kedua adalah memperkuat kewenangan dan integrasi lintas institusi melalui satu sistem komando darurat terpadu. Ia mengusulkan pembentukan Pusat Komando Reaksi Cepat SAR Nasional dengan konsep satu data dan satu komando, sehingga koordinasi TNI, Polri, dan kementerian/lembaga dapat dilakukan tanpa hambatan birokrasi saat status darurat ditetapkan.
“Begitu kanal berubah ke SAR, maka mekanisme komandonya juga berubah. Semua prosedur bisa dipangkas demi menyelamatkan manusia,” ujarnya.
Pratikno menekankan kedua strategi dapat berjalan bersamaan dengan dukungan teknologi komunikasi hingga daerah terpencil. Ia juga mengapresiasi dedikasi jajaran Basarnas, TNI-Polri, dan relawan yang bertugas di lapangan, serta mengajak seluruh pemangku kepentingan memperkuat sinergi demi keselamatan warga negara.
IKUTI BERITA TERBARU TAJUK NASIONAL, MELALUI MEDIA SOSIAL KAMI


